
Seminar Nasional Etika, Iman, dan Kecerdasan Buatan
Oleh : Didiroy D. Joneh, Mahasiswa Semester V, STPAK Ambon
Poka, STPAK – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Teknologi ini menawarkan berbagai kemudahan dalam bidang pendidikan, pekerjaan, komunikasi, penelitian, hingga pelayanan Gereja. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa arti menjadi manusia ketika teknologi semakin cerdas?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok refleksi dalam Seminar Nasional “Etika, Iman dan Kecerdasan Buatan” yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik Santo Yohanes Penginjil Ambon (STPAK) bersama perguruan tinggi agama Katolik dalam jaringan kolaborasi nasional.
Seminar dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan turut ditayangkan secara langsung melalui YouTube Komsos Keuskupan Ambon. Format tersebut memungkinkan peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan dan mengambil bagian dalam dialog akademik mengenai AI, iman, etika, pendidikan, dan martabat manusia.

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah mahasiswa dan mahasiswi STPAK Santo Yohanes Penginjil Ambon, STP Reinha Larantuka, STPK Santo Fransiskus Asisi Semarang, dan STP Bina Insan Samarinda. Turut hadir para pastor, suster, dosen, akademisi, dan pimpinan perguruan tinggi, di antaranya adalah Pastor Johanis Luturmas, SS., MA., Ketua STPAK Santo Yohanes Penginjil Ambon, Pastor Bernard Antonius Rahawarin, SS., M.Ag., Pastor Dr. Kornelis Seralarat, SS., MA., serta Pastor Ignasius Samson Sudirman Refo, SS., MA. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa persoalan AI tidak hanya menjadi urusan teknologi. Namun, ia menyentuh dunia pendidikan, kehidupan sosial, pelayanan pastoral, moralitas, dan kehidupan iman.
Memperkuat Budaya Akademik
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengantar dari Prof. Dr. Ris’an Rusli, MA. Dalam pengantarnya, Prof. Ris’an menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar yang mempertemukan berbagai perguruan tinggi dalam sebuah ruang akademik bersama.
Ia menekankan pentingnya penguatan kegiatan akademik dan kolaborasi antarlembaga. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu membangun budaya akademik yang mendorong keberanian untuk berpikir, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya yang berdampak positif.
Dari konteks tersebut, tema AI menjadi relevan untuk dibicarakan secara serius. Kemajuan teknologi perlu diikuti dengan kemampuan manusia untuk memahami manfaat, keterbatasan, serta konsekuensi penggunaannya.
Pertanyaan tentang teknologi kemudian diarahkan kepada persoalan iman, yaitu apa arti iman manusia di tengah kemajuan teknologi yang semakin cerdas?
Iman Menjadi Kompas
Refleksi tersebut dilanjutkan dengan sambutan Direktur Pendidikan Katolik Kemenag RI, Albertus. Ia menilai tema seminar sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
AI mampu melakukan berbagai hal yang sebelumnya hanya dilakukan manusia. Teknologi dapat membantu menghasilkan tulisan, karya ilmiah, lagu, gambar, menerjemahkan bahasa, meniru wajah dan suara, bahkan membantu menyusun khotbah maupun bahan katekese.
Kemampuan tersebut menunjukkan kemajuan teknologi yang luar biasa. Namun, justru di tengah kemajuan itu muncul pertanyaan penting: apa arti menjadi manusia beriman?
Dalam refleksi tersebut, iman dipahami sebagai sesuatu yang memberikan arah, identitas, karakter, dan kompas bagi kehidupan manusia. Sementara kecerdasan merupakan instrumen yang harus digunakan secara bertanggung jawab.

Manusia tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menentukan apa yang benar, baik, pantas, dan bertanggung jawab.
Manusia sebagai ciptaan Allah memiliki martabat yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Karena itu, AI tidak dapat menggantikan makna pengalaman manusia dalam beriman, membangun relasi dengan Allah, mengasihi, mengampuni, dan mengambil keputusan berdasarkan hati nurani.
Albertus juga mengingatkan bahwa ruang digital bukanlah ruang yang bebas nilai. Fenomena seperti cyberbullying, kekerasan emosional, hoaks, fake news, dan berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi menunjukkan bahwa perkembangan teknologi harus berjalan bersama dengan etika.
Karena itu, kampus tidak perlu menjadi anti-AI. Teknologi dapat membantu berbagai pekerjaan akademik, tetapi penggunaannya tidak boleh menggantikan hati nurani, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir manusia.
Ketika AI Semakin Cerdas
Sesi utama seminar menghadirkan Marianus Muharli Mua, S.Fils., MA dari STP Don Bosco Tomohon sebagai keynote speaker. Dalam pemaparannya, Marianus mengangkat tema “Ketika AI Menjadi Semakin Cerdas: Di Mana Etika dan Iman Manusia?”
Marianus mengajak peserta untuk melihat perkembangan kecerdasan buatan secara kritis dan proporsional. AI tidak semata-mata harus dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Teknologi tersebut perlu dipahami agar manusia dapat memanfaatkannya secara tepat tanpa kehilangan kendali atas penggunaannya.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perkembangan AI dapat dilihat melalui beberapa kemampuan utama, antara lain kemampuan menganalisis, menghasilkan sesuatu secara generatif, serta memberikan dukungan dalam proses pengambilan keputusan.
AI mampu mengolah sejumlah besar informasi, menghasilkan berbagai bentuk karya, dan memberikan rekomendasi berdasarkan data yang tersedia. Namun, kemampuan AI dalam mengolah informasi dan menghasilkan jawaban tidak serta-merta menjadikannya setara dengan manusia.
Dari titik tersebut, Marianus membawa peserta pada sebuah pertanyaan filosofis dimanaketika mesin semakin mampu melakukan berbagai pekerjaan manusia, apa yang masih membuat manusia tetap menjadi manusia?
Pertanyaan tersebut mengarah pada pembedaan antara kecerdasan dan kebijaksanaan. AI dapat memberikan informasi, mengolah data, serta menawarkan berbagai kemungkinan jawaban. Namun, kemampuan untuk menentukan apa yang benar, apa yang baik, dan apa yang seharusnya dilakukan tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Dalam perspektif iman Katolik, persoalan tersebut berkaitan dengan martabat manusia sebagai Imago Dei, yakni manusia sebagai gambar dan citra Allah. Martabat manusia tidak ditentukan semata-mata oleh kemampuan, produktivitas, atau kesempurnaannya. Karena itu, manusia tidak dapat direduksi menjadi sekadar data, angka, maupun hasil perhitungan algoritma.
Pada titik inilah penggunaan AI membutuhkan tanggung jawab etis. Teknologi dapat memberikan berbagai pilihan dan kemungkinan, tetapi keputusan akhir tetap berada pada manusia. Manusia perlu mempertimbangkan konteks, nilai, konsekuensi, serta dampak keputusan yang diambil.
Salah satu gagasan penting yang ditekankan Marianus adalah bahwa AI harus ditempatkan sebagai “copilot”, bukan “pilot”. AI dapat membantu manusia dalam menjalankan berbagai tugas, tetapi tidak mengambil alih posisi manusia sebagai pengendali.
Dengan demikian, semakin canggihnya AI justru menuntut manusia untuk semakin kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab. Teknologi dapat menjadi alat yang membantu manusia, tetapi arah penggunaannya tetap ditentukan oleh manusia yang memiliki hati nurani, iman, dan tanggung jawab moral.
Imago Dei dalam Bayang-Bayang Kolonisasi AI
Pembahasan berikutnya disampaikan oleh Costantinus Fatlolon, SS., MA., PhD., salah seorang dosen STPAK Santo Yohanes Penginjil Ambon dengan tema “Imago Dei dalam Bayang-Bayang Kolonisasi Artificial Intelligence.”
Tema tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat perkembangan kecerdasan buatan tidak hanya dari sisi manfaat teknologi, tetapi juga dari sisi risiko sosial dan persoalan etis yang menyertainya.
Dalam pemaparannya, Fatlolon menegaskan bahwa artificial intelligence membawa manfaat, tetapi juga memiliki risiko. Ia menyebut sejumlah persoalan yang muncul dalam perkembangan teknologi, antara lain misinformasi dan pelanggaran data.
Dari situ, ia mengajukan pertanyaan sentral mengenai sejauh mana kecerdasan buatan telah menghasilkan patologi sosial dan bentuk kolonisasi baru yang dapat mendevaluasi prinsip-prinsip etika kemanusiaan universal serta ajaran iman Katolik mengenai manusia sebagai Imago Dei.

Fatlolon kemudian menegaskan tesis utama bahwa teknologi kecerdasan buatan hanyalah sarana, bukan tujuan dan bukan pengganti kecerdasan manusia.
Namun, sebagai sarana teknologi modern, AI juga dapat membawa bentuk-bentuk patologi dan kolonisasi baru yang perlu diperhatikan secara serius. Karena itu, persoalan tersebut membutuhkan etika kecerdasan buatan sekaligus usaha membangun budaya kekuasaan dan budaya cinta.
Untuk menjelaskan persoalan tersebut, Fatlolon menggunakan studi pustaka dengan pendekatan eksposisi kritis. Ia mempertemukan perspektif ilmu-ilmu kemanusiaan dan teologi dalam melihat aspek positif dan negatif artificial intelligence.
Dalam pemaparannya, ia menghubungkan pemikiran Jürgen Habermas mengenai kolonisasi dunia kehidupan dengan pembahasan Paus Leo mengenai perbudakan dan kolonisasi baru dalam ensiklik terbarunya. Fatlolon juga menjelaskan bahwa artificial intelligence merupakan bidang ilmu komputer yang memungkinkan mesin menjalankan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.
Di balik sistem komputasi tersebut terdapat sejumlah aktor yang memungkinkan AI bekerja, mulai dari pihak yang merancang komputer, penyedia data yang memasukkan data untuk diproses, hingga pihak yang menyediakan dana. Keberadaan aktor-aktor tersebut menjadi bagian penting untuk memahami aspek kolonisasi dalam perkembangan AI.
Dalam konteks tersebut, pembahasan AI tidak berhenti pada kemampuan mesin untuk melakukan berbagai pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan. Perhatian juga diarahkan pada struktur yang berada di balik teknologi tersebut, termasuk data, modal, aktor, dan kekuasaan yang memungkinkan sistem AI berkembang.
Dengan demikian, refleksi Fatlolon menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Persoalan AI bukan semata-mata mengenai seberapa jauh teknologi dapat berkembang, tetapi juga bagaimana perkembangan tersebut berhadapan dengan prinsip-prinsip etika kemanusiaan dan pemahaman iman Katolik mengenai manusia sebagai Imago Dei.
Kecerdasan Membutuhkan Kebijaksanaan Hati
Selanjutnya, Hilarie Didakus Nengaamap, M.Hum., Lic.Th dari STP Bina Insan Samarinda membawa peserta pada refleksi mengenai hubungan antara kecerdasan dan kebijaksanaan hati.
Dalam paparannya, Hilarie menekankan bahwa kecerdasan manusia tidak dapat dibatasi hanya pada kemampuan berpikir secara mandiri. Manusia juga merupakan pribadi yang bertanggung jawab atas pemikirannya. Karena itu, semakin berkembang kemampuan intelektual, semakin penting pula kebijaksanaan dalam menentukan bagaimana kemampuan tersebut digunakan.
Menurutnya, kecerdasan manusia pada akhirnya membutuhkan kebijaksanaan hati. Hal ini membawa konsekuensi bahwa kecerdasan manusia pertama-tama harus bersifat relasional. Pemahaman mengenai manusia, sebagaimana ditunjukkan dalam Kitab Suci, tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk yang hidup dalam relasi.

Dalam refleksi tersebut, manusia dipahami sebagai pribadi yang dipanggil untuk hadir bagi yang lain. Relasi bukan sekadar pelengkap kehidupan manusia, tetapi merupakan bagian penting dari cara manusia memahami dirinya sebagai pribadi.
Hilarie juga menghubungkan refleksi tersebut dengan pemahaman tentang manusia sebagai ciptaan yang memiliki relasi dengan Allah, sesama, dan bumi. Dalam konteks ini, kecerdasan tidak cukup hanya menghasilkan kemampuan untuk mengetahui dan melakukan sesuatu. Kebijaksanaan diperlukan untuk mempertimbangkan apakah sesuatu yang dapat dilakukan itu sungguh baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Refleksi tersebut menjadi relevan dalam pembahasan mengenai kecerdasan buatan. AI dapat membantu manusia menghasilkan berbagai kemungkinan, tetapi kemampuan menghasilkan pilihan tidak sama dengan kemampuan menentukan pilihan yang benar dan baik. Karena itu, keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia, termasuk melihat kesesuaian dengan situasi, kebenaran, kebaikan, serta dampaknya.
Pada akhirnya, pembahasan Hilarie menempatkan kebijaksanaan hati sebagai bagian penting dalam menghadapi perkembangan kecerdasan, termasuk kecerdasan buatan. Teknologi dapat membantu manusia dalam berbagai hal, tetapi manusia tetap membutuhkan relasi, kehadiran, pengalaman bersama, kasih, dan tanggung jawab. Dengan demikian, tantangan di tengah perkembangan AI bukan sekadar menjadi semakin cerdas, melainkan tetap memahami apa yang membuat manusia menjadi manusia.
AI dan Kebijaksanaan Manusia
Perspektif mahasiswa kemudian disampaikan oleh Leonaldus Bella Hera dari STP Reinha Larantuka. Dalam sesi pemaparan mahasiswa, Leonaldus mengajak peserta melihat perkembangan kecerdasan buatan dari pengalaman manusia yang hidup dan belajar di tengah kemajuan teknologi.
Ia menyoroti bahwa AI dapat membantu manusia dalam berbagai aktivitas. Namun, kemudahan tersebut tidak berarti bahwa manusia harus menyerahkan seluruh proses berpikir dan pengambilan keputusan kepada teknologi. Salah satu gagasan yang ditekankan adalah bahwa kecerdasan tidak sama dengan kebijaksanaan.
AI dapat membantu menghasilkan jawaban, membandingkan informasi, dan memberikan berbagai kemungkinan. Namun, menghasilkan banyak pilihan berbeda dengan menentukan pilihan mana yang benar dan baik.
Manusia tetap perlu melihat kesesuaian suatu pilihan dengan keadaan, mempertimbangkan apakah pilihan tersebut benar dan baik, serta memikirkan dampaknya. Dalam konteks tersebut, teknologi dapat memberikan pilihan, tetapi manusia tetap menentukan arahnya. AI dapat memberikan rekomendasi, sementara tanggung jawab moral tetap berada pada manusia. Karena itu, kebebasan dan hati nurani menjadi bagian penting yang tidak dapat dilepaskan dari keputusan manusia ketika berhadapan dengan teknologi.
Leonaldus juga menekankan dimensi relasional manusia. Dalam pengalaman kehidupan mahasiswa, teknologi memang dapat membantu berbagai pekerjaan. Namun, ketika manusia harus bekerja sama, berkomunikasi, berdiskusi, menjalankan tanggung jawab dalam organisasi maupun pelayanan, kehadiran manusia lain tetap dibutuhkan.
AI dapat memberikan respons, tetapi relasi manusia melibatkan kehadiran, pengalaman bersama, kasih, dan tanggung jawab. Karena itu, persoalan utama bukan membuktikan bahwa manusia selalu lebih hebat daripada AI, melainkan menyadari apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia.
Menjadi Manusia di Tengah AI
Sesi terakhir menghadirkan Valentino Endianto, mahasiswa STPK Santo Fransiskus Asisi Semarang, dengan tema “Menjadi Manusia di Tengah Kecerdasan Buatan.”Dalam pemaparannya, Valentino mengajak peserta untuk melihat kembali pertanyaan mendasar tentang manusia ketika hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin cerdas.
Valentino mengawali refleksinya dengan pertanyaan : ketika AI semakin mampu melakukan pekerjaan manusia, seperti membuat tulisan, presentasi, gambar, hingga membantu menjawab berbagai pertanyaan, apa yang masih membuat manusia tetap menjadi manusia?
Sebagai mahasiswa, ia mengakui bahwa AI memang memberikan banyak kemudahan, terutama ketika menyusun tugas, mencari ide, atau membantu menyusun berbagai kebutuhan akademik. Namun, kemudahan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan kritis: jangan-jangan ketika segala sesuatu menjadi semakin mudah, manusia justru semakin sedikit berpikir.
Karena itu, pembicaraan mengenai AI tidak cukup hanya berfokus pada seberapa canggih teknologi tersebut. Perhatian juga perlu diarahkan kepada pertanyaan tentang siapa manusia ketika hidup berdampingan dengan teknologi.
Dalam refleksinya, Valentino menekankan bahwa kecerdasan tidak sama dengan kebijaksanaan. AI dapat membantu menghasilkan jawaban, membandingkan informasi, dan memberikan berbagai kemungkinan, tetapi tidak dapat menentukan pilihan mana yang tepat dalam kehidupan manusia. Manusia tetap perlu mempertimbangkan apakah sesuatu sesuai dengan kondisi, benar, baik, dan apa dampaknya.
Ia juga menyoroti kebebasan dan hati nurani manusia. AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi tanggung jawab moral dan keputusan akhir tetap berada pada manusia. Karena itu, penggunaan teknologi tidak menghapus tanggung jawab manusia dalam menentukan keputusan.
Hal lain yang menjadi perhatian Valentino adalah dimensi relasional manusia. Dalam kehidupan mahasiswa, teknologi dapat membantu berbagai pekerjaan, tetapi ketika seseorang harus bekerja sama dengan teman, berkomunikasi, berdiskusi, menjalankan tanggung jawab dalam organisasi maupun pelayanan, kehadiran manusia lain tetap dibutuhkan. Maksudnya AI dapat memberikan respons, tetapi relasi manusia melibatkan kehadiran, pengalaman bersama, kasih, dan tanggung jawab.
Pada bagian akhir pemaparannya, Valentino menegaskan bahwa AI boleh membantu, tetapi manusia tetap harus berpikir dan memahami. Iman memberikan arah agar teknologi digunakan untuk melayani martabat dan kebaikan bersama, sementara hati nurani membantu manusia memilih apa yang benar, adil, aman, dan bermanfaat.
Refleksi tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah prinsip sederhana: AI dapat menghasilkan berbagai kemungkinan, tetapi manusialah yang menentukan kebenaran, kebaikan, dan arah penggunaannya.
AI, Iman, Etika dan Aksi
Dari keseluruhan pembahasan seminar, terdapat satu kerangka refleksi yang menjadi benang merah berbagai pandangan para narasumber, yakni AI, Iman, Etika dan Aksi. AI memberikan kemampuan dan kemungkinan baru bagi manusia. Namun, kemampuan tersebut membutuhkan arah. Dalam konteks iman Katolik, iman mengingatkan bahwa manusia memiliki martabat di hadapan Allah sebagai citra-Nya. Karena itu, manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar data, angka, atau objek algoritma.
Selanjutnya, etika membantu manusia mempertimbangkan bagaimana teknologi digunakan. Pertanyaan etis tidak hanya menyangkut apakah AI mampu melakukan sesuatu, tetapi apakah penggunaannya adil, bertanggung jawab, menghormati privasi dan kebenaran, serta membawa kebaikan bagi orang lain.
Namun, refleksi tidak berhenti pada pemahaman. Semua pembahasan mengenai AI, iman, dan etika pada akhirnya perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. AI diharapkan dapat digunakan untuk mendukung kehidupan, pendidikan, penelitian, pelayanan pastoral, kreativitas mahasiswa, serta kebaikan bersama.
Dalam kerangka tersebut, teknologi membutuhkan arah moral. Teknologi memberikan kemampuan, etika memberikan pertimbangan, iman memberikan orientasi, dan manusia menerjemahkan semuanya ke dalam tindakan.Karena itu, sikap terhadap AI tidak harus berupa penolakan terhadap teknologi. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk menggunakan AI secara sadar, kritis, dan bertanggung jawab.
Dalam dunia pendidikan, teknologi dapat menjadi alat yang membantu proses belajar dan bekerja, tetapi tidak seharusnya mengambil alih peran manusia sebagai pihak yang berpikir dan mengambil keputusan.
Manusia Seperti Apa yang Sedang Dibentuk melalui AI?
Pada akhirnya, seminar membawa peserta kepada pertanyaan yang lebih mendalam: “Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui AI?”Pertanyaan ini menjadi penting karena kecanggihan teknologi tidak selalu berjalan searah dengan perkembangan manusia. AI boleh semakin cerdas dan teknologi boleh semakin canggih, tetapi jangan sampai ketika mesin semakin mampu berpikir, manusia justru semakin berhenti berpikir.
Jangan sampai ketika mesin semakin mampu berbicara, manusia justru semakin kehilangan relasi, dan ketika teknologi semakin maju, manusia justru semakin lupa siapa dirinya. Disinilah, penggunaan AI perlu tetap menempatkan manusia sebagai “aktor utama” iaitu pribadi yang berpikir, memiliki hati nurani, mampu mengasihi, mencari kebenaran, dan bertanggung jawab.
Teknologi dapat digunakan sebagai alat, tetapi manusia tidak menyerahkan seluruh kemampuannya kepada teknologi. Dalam kehidupan pendidikan dan pelayanan, prinsip tersebut menjadi semakin penting. AI dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan, tetapi kehadiran manusia, relasi, hati nurani, dan tanggung jawab tetap memiliki tempat yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh teknologi.
Pada akhirnya, Seminar Nasional “Etika, Iman dan Kecerdasan Buatan” tidak hanya mengajak peserta bertanya seberapa canggih AI yang dimiliki, tetapi juga mengajak mereka melihat kembali manusia yang sedang dibentuk melalui penggunaannya.
Tantangan di era kecerdasan buatan bukan hanya menciptakan teknologi yang semakin cerdas. Tantangan yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa manusia tetap mampu berpikir, menjaga relasi, menggunakan hati nurani, mencari kebenaran, mengembangkan kebijaksanaan, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dibuat dengan bantuan teknologi.
Dengan demikian, AI dapat berkembang semakin cerdas tanpa membuat manusia kehilangan arah. Iman memberikan orientasi, etika memberikan pertimbangan, dan aksi menjadi wujud nyata bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung kehidupan, pendidikan, pelayanan, serta kebaikan bersama.



