
Kunjungan Pastoral Ketua Komisi Kepemudaan Pererat Persaudaraan Mahasiswa STPAK dan OMK Kevikepan Kota Ambon
Penulis: Didiroy D. Joneh, Mahasiswa Semester V
Rumah Tiga, Ambon – Lebih dari 300 Orang Muda Katolik (OMK) dari sejumlah paroki berkumpul di Paroki Rumah Tiga dalam rangka kunjungan pastoral OMK Pusat. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, membangun komunikasi lintas komunitas, serta mendengarkan dinamika kehidupan dan pelayanan orang muda di tengah Gereja.

Kehadiran OMK dari berbagai paroki disambut antusias oleh OMK Paroki Rumah Tiga. Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari mahasiswa Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK). Mereka turut hadir dan mengikuti kegiatan secara langsung sebagai kesempatan untuk mengenal serta belajar dari dinamika kehidupan dan pelayanan orang muda dalam komunitas Gereja.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 17.00 WIT. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Lopez Sirken, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Amboina, sebagai selebran utama, didampingi oleh Pastor Dr. Kornelis Seralarat sebagai konselebran.
Dalam homilinya, RD. Lopez Sirken terlebih dahulu menyampaikan pesan dan salam dari Bapa Uskup, Mgr. Seno Ngutra, kepada seluruh OMK yang hadir.
Dalam pesannya, Uskup menegaskan bahwa orang muda merupakan bagian penting dari masa depan Gereja. Karena itu, kegiatan orang muda tidak harus selalu dituntut dalam bentuk yang besar atau “wow”. Hal yang lebih penting ialah bagaimana setiap kegiatan menjadi ruang untuk saling mengenal, membangun relasi persaudaraan, dan memperkuat komunitas yang akhirnya menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap Gereja serta memperkuat kebersamaan sebagai satu komunitas umat Allah.

Menurut Pastor Lopez, orang muda Katolik diharapkan menjadi pribadi yang hidup, berani tampil, dan penuh sukacita. Semangat tersebut sejalan dengan pesan Christus Vivit, yang mengajak orang muda untuk menghidupi masa mudanya dengan penuh sukacita sekaligus mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan dan perutusan Gereja.
Bertepatan dengan Pesta Salib Suci, Pastor Lopez juga mengajak orang muda untuk memahami makna Salib Suci dalam kehidupan dan panggilan mereka. Ia menegaskan bahwa orang muda dipanggil oleh Tuhan untuk mengambil bagian dalam misi Gereja, khususnya dalam mewartakan Kabar Gembira kepada sesama.

Pastor Lopez mengingatkan bahwa Kristus mencintai setiap pribadi dan setiap orang memiliki salibnya masing-masing. Karena itu, orang muda dipanggil bukan untuk saling menghakimi, melainkan untuk hadir, saling mendukung, dan berani menjadi saksi iman dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena dapat kembali bertemu dengan para OMK. Menurutnya, pendampingan terhadap orang muda perlu terus dilanjutkan melalui berbagai kunjungan dan kegiatan kelak. Apresiasi juga disampaikan kepada para OMK yang hadir, termasuk mereka yang datang dari tempat yang jauh. Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa semangat persaudaraan dan kebersamaan dalam Gereja mampu melampaui jarak dan perbedaan tempat pelayanan.
Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi peneguhan mengenai maksud dan peran pelayanan, serta visi dan misi pelayanan Orang Muda Katolik. Sesi tersebut dipandu oleh Jhon Dumatubun, Sekretaris Kepemudaan Keuskupan.

Dalam peneguhannya, Jhon mengajak orang muda Katolik untuk memiliki semangat yang terus bergelora dalam menjalankan tugas dan pelayanan. Menurutnya, orang muda memiliki ruang yang luas untuk mengambil bagian dalam berbagai bidang dan kelompok kategorial sesuai dengan panggilan, kemampuan, dan talenta masing-masing.
Namun, di mana pun seorang OMK menjalankan pelayanan, identitas dan tanggung jawabnya sebagai orang muda Katolik tetap perlu diingat. Sebagai OMK ia memiliki peran penting dalam kehidupan Gereja, baik di tingkat lingkungan, paroki, maupun keuskupan. “Orang muda Katolik harus tetap memiliki semangat yang bergelora. Kita boleh melayani di mana pun dalam berbagai kategorial, tetapi jangan pernah melupakan identitas kita sebagai OMK yang memiliki peran dalam kehidupan Gereja di paroki dan keuskupan,” tegas Jhon.

Menjelang berakhirnya rangkaian kunjungan pastoral, Lopez juga mengambil pelunag untuk mengajak para OMK untuk melihat berbagai kebutuhan konkret yang dihadapi orang muda dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu persoalan yang dibahas ialah tantangan pekerjaan yang dihadapi sebagian OMK.
Para OMK didorong untuk membangun kepedulian bersama dengan mengumpulkan dan membagikan informasi mengenai lowongan pekerjaan kepada sesama OMK yang sedang mencari pekerjaan.
Hal tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bahwa pelayanan orang muda tidak hanya berkaitan dengan kegiatan rohani, tetapi juga perlu menyentuh realitas kehidupan mereka. Komunitas OMK diharapkan menjadi ruang untuk saling menguatkan, berbagi informasi, membuka peluang, dan hadir bagi sesama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Kunjungan pastoral ditutup dengan santapan bersama dan perbualan dalam suasana penuh persahabatan. Para OMK dari berbagai paroki duduk bersama, berbagi cerita, dan membangun keakraban. Momen sederhana namun penuh erti kebersamaan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun jejaring dan memperkuat kebersamaan OMK lintas paroki. Semangat tersebut akan dilanjutkan melalui kunjungan pastoral berikutnya yang direncanakan berlangsung di Paroki Laha pada Oktober mendatang.




