
Berjalan Bersama Bunda Maria, Rally Rosario Satukan Kaum Muda Katolik di Ambon
Oleh: Didiroy D. Joneh, Mahasiswa Semester V STPAK Ambon
Ambon – Lebih dari 600 mahasiswa dan pelajar Katolik dari berbagai lembaga pendidikan di Kota Ambon mengikuti Rally Rosario pada Jumat, 2 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai dari halaman Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon menuju Gereja Paroki St. Joseph Poka ini menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, memperdalam iman, serta menumbuhkan semangat kaum muda dalam kehidupan menggereja.

Mahasiswa Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK) Ambon turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut bersama pelajar, para frater, dan mahasiswa dari berbagai lembaga pendidikan, antara lain SMA Xaverius Ambon, SMA Maria Mediatrix Ambon, STIKes Husada Ambon, Universitas Pattimura, Universitas Kristen Indonesia Maluku, STIA Trinitas, serta Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ungkapan syukur atas 25 tahun perjalanan imamat Uskup Seno Ngutra serta bagian dari perjalanan umat menuju peringatan 125 tahun Keuskupan Amboina. Kebersamaan kaum muda dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan iman tidak hanya bertumbuh dalam komunitas masing-masing, tetapi juga melalui perjumpaan dan persaudaraan lintas lembaga pendidikan.

Sebelum perjalanan dimulai, Pastor Ignasius Samson Sudirman Refo menyampaikan kata sambutan sekaligus menyambut kehadiran Yang Mulia Uskup Seno Ngutra, para imam, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, serta seluruh peserta Rally Rosario. Sambutan tersebut menjadi pembuka bagi perjumpaan kaum muda Katolik dalam suasana iman dan persaudaraan.
Pada pukul 16.00 WIT, para peserta kemudian memulai perjalanan dari Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon menuju Gereja Paroki St. Joseph Poka. Sepanjang perjalanan, peserta bersama-sama mendaraskan doa Rosario sebagai ungkapan iman dan penghormatan kepada Bunda Maria.

Bagi mahasiswa STPAK Ambon, keterlibatan dalam Rally Rosario menjadi bagian dari pengalaman pembentukan diri yang melengkapi proses akademik di kampus. Sebagai mahasiswa yang dipersiapkan dalam bidang Pendidikan Agama Katolik, pengalaman hidup menggereja menjadi ruang penting untuk mengembangkan dimensi intelektual, spiritual, dan pastoral.
Ekaristi dan Pesan tentang Menjadi “Malaikat” bagi Sesama
Sesampainya di Gereja Paroki St. Joseph Poka, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 18.00 WIT. Perayaan tersebut dipimpin oleh Yang Mulia Uskup Seno Ngutra sebagai selebran utama, didampingi Pastor Dr. Antonius Alex Lesomar, Pastor Ignasius Samson Sudirman Refo, dan Pastor Dr. Kornelis Seralarat.

Dalam homilinya pada kesempatan Pesta Para Malaikat Pelindung, Uskup Seno Ngutra mengajak para mahasiswa dan pelajar untuk memahami makna kehadiran para malaikat dalam kehidupan manusia. Malaikat Mikael digambarkan sebagai panglima bala tentara Allah yang melawan kejahatan, dosa, dan ketidakadilan, sementara Malaikat Rafael hadir sebagai teman seperjalanan yang membawa penyembuhan, pertolongan, dan harapan bagi mereka yang mengalami penderitaan.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan pengalaman hidup para mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang. Uskup Seno mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu mudah, terlebih bagi mahasiswa yang harus tinggal jauh dari keluarga dan menghadapi berbagai tuntutan akademik maupun persoalan kehidupan sehari-hari.
Dalam refleksinya, Uskup Seno juga menegaskan bahwa setiap pribadi memiliki martabat yang berharga di hadapan Allah:
“Yang kecil di mata manusia akan menjadi besar di hadapan Allah,” ujarnya tegas.
Uskup mengajak kaum muda untuk mewujudkan iman melalui kejujuran, kebenaran, kebaikan, keadilan, cinta kasih, dan pengampunan. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar bagi kaum muda untuk membangun relasi yang sehat dengan Tuhan maupun dengan sesama.
Salah satu pesan yang menjadi perhatian peserta adalah ajakan untuk menjadi “malaikat yang tak bersayap” bagi orang lain. Menurut Uskup Seno, kehadiran malaikat dalam kehidupan manusia dapat dialami melalui orang-orang yang memberikan perhatian, penguatan, penghiburan, dan dukungan dalam situasi sulit: “Jadilah malaikat bagi sahabat-sahabat,” tegasnya.

Pesan tersebut memiliki relevansi khusus bagi mahasiswa STPAK Ambon yang sedang dipersiapkan sebagai calon pendidik agama Katolik dan pelayan pastoral. Pendidikan tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga diharapkan melahirkan pribadi yang memiliki kepedulian, kepekaan, dan kesediaan untuk mendampingi sesama.
Suara Kaum Muda: Rosario sebagai Perjalanan Iman
Keterlibatan kaum muda dalam Rally Rosario juga menghadirkan berbagai pengalaman pribadi. Salah seorang International Student STPAK Ambon asal Malaysia, Aelton Alex, mengungkapkan rasa syukur dan sukacitanya karena dapat mengikuti Rally Rosario bersama ratusan kaum muda Katolik di Ambon.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda di tengah kesibukan perkuliahan dan tugas akademik. Menurutnya, “Rosario bukan sekadar doa hafalan. Kami merenungkannya sepanjang perjalanan dan percaya bahwa melalui doa Rosario, kami berjalan bersama Bunda Maria menuju Yesus.”
Pengalaman tersebut tidak hanya memberikan penguatan rohani, tetapi juga menghadirkan sukacita, kedamaian, serta semangat baru untuk terus bertumbuh dalam iman dan membangun kepedulian terhadap sesama.

Pengalaman serupa disampaikan Letice Atdjas, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura, yang merasa bersyukur dapat mengambil bagian dalam kegiatan tersebut di tengah kesibukan akademik. Kebersamaan dengan ratusan kaum muda Katolik menjadi kesempatan untuk semakin menghidupi iman sekaligus membangun persaudaraan.
Sementara itu, Falentina Lamere, siswi kelas XI SMA Maria Mediatrix Ambon, mengungkapkan kebahagiaannya karena dapat mengikuti perjalanan Rosario bersama keluarga besar umat Katolik di Ambon.
“Saya merasa hati saya tenang karena dalam perjalanan ini, Bunda Maria selalu berjalan bersama saya,” katanya lugas.
Dialog Kaum Muda dan Cita-Cita Universitas Katolik di Ambon
Setelah Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog iman bersama Uskup Seno Ngutra dan para pastor. Selama kurang lebih satu jam, mahasiswa dan pelajar mendapat kesempatan menyampaikan pertanyaan mengenai kehidupan iman, pendidikan, serta masa depan Gereja.
Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian mengenai cita-cita mengwujudkan Universitas Katolik di Ambon.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Uskup Seno menjelaskan bahwa gagasan mengenai pendirian Universitas Katolik di Ambon telah menjadi cita-cita bersama sejak Sinode 2019. Namun, menurutnya, mewujudkan sebuah universitas membutuhkan persiapan yang matang dan tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan atau membangun gedung.
Salah satu langkah yang perlu dilakukan ialah memperkuat lembaga pendidikan yang sudah ada, mengembangkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, serta mempersiapkan fakultas-fakultas yang memadai. Di samping itu, persiapan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Dalam dialog tersebut, Uskup Seno juga menyampaikan bahwa cita-cita pendidikan tinggi Katolik di Ambon diharapkan dapat membuka kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak Katolik dari berbagai wilayah. Karena itu, pengembangan program beasiswa bagi mahasiswa dari berbagai daerah juga menjadi salah satu perhatian penting.
“Kita bukan hanya membangun gedung, tetapi mempersiapkan manusia,” tegas dia.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu refleksi penting dalam konteks pendidikan Katolik. Pendidikan tinggi tidak semata-mata berbicara mengenai pembangunan sarana dan prasarana, tetapi terutama mengenai proses mempersiapkan manusia yang memiliki pengetahuan, iman, karakter, dan kemampuan untuk melayani.
STPAK Ambon dan Pembentukan Generasi Pelayan Gereja
Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi Katolik, STPAK Ambon memiliki peran dalam mempersiapkan sumber daya manusia bagi Gereja dan masyarakat. Proses pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan, iman, dan pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa untuk terlibat dalam bidang pendidikan agama Katolik, katekese, dan pelayanan pastoral.

Karena itu, keterlibatan mahasiswa STPAK Ambon dalam Rally Rosario tidak dapat dipandang hanya sebagai keikutsertaan dalam sebuah kegiatan rohani. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa di luar ruang kuliah, khususnya melalui pengalaman hidup menggereja dan perjumpaan dengan umat.
Melalui pengalaman seperti ini, mahasiswa diajak untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dalam perkuliahan dengan realitas kehidupan umat, pengalaman iman, kehidupan komunitas, serta tanggung jawab pelayanan kepada sesama.
Dengan demikian, kegiatan pastoral dan kerohanian menjadi ruang pembelajaran yang konkret bagi mahasiswa STPAK Ambon untuk mengembangkan kemampuan reflektif, kepemimpinan, komunikasi, solidaritas, dan pelayanan.
Dari Doa Menuju Persaudaraan
Setelah seluruh rangkaian perayaan dan dialog iman selesai, kegiatan dilanjutkan dengan makan malam bersama di Pantai Ambonia Bay. Dalam suasana santai dan penuh keakraban, Uskup Seno Ngutra bersama para pastor, mahasiswa dan pelajar dari berbagai lembaga pendidikan berinteraksi, berbagi pengalaman, dan membangun persaudaraan.
Perjumpaan tersebut menjadi penutup yang memperlihatkan bahwa perjalanan iman tidak hanya berlangsung dalam doa dan liturgi, tetapi juga dalam relasi antarmanusia. Persaudaraan yang dibangun menjadi wujud nyata dari ajakan untuk menjadi sahabat dan sumber kekuatan bagi sesama.




