
KERAGU-RAGUAN RASUL THOMAS: JALAN UNTUK MENYELAMI MISTERI KERAHIMAN ILAHI
Sebuah Refleksi Pada Pekan II Paskah: Pesta Kerahiman Ilahi/Minggu Rasul Thomas
Oleh: RD. Fransiksus Kandunmas
Pengantar
Ketika berbicara tentang “Kerahiman Ilahi” pikirkan kita pun langsung tertuju pada sosok seorang Biarawati asal Polandia, Suster Maria Faustina Kowalska (1905-1938), atau pada mendiang Paus Yohanes Paulus II (nama kecilnya: Karol Joseph Wojtyla) yang dijuluki sebagai ‘Rasul-Rasul Kerahiman Ilahi’. Sebab merekalah yang mempopulerkan doa/devosi kerahiman ilahi ke seluruh dunia. Padahal dalam setiap Pesta Kerahiman Ilahi yang dirayakan pada Minggu II (kedua) Paskah, Gereja menyuguhkan bacaan injil yang selalu menampilkan sosok seorang rasul yang mendapat tempat istimewa di hati Yesus. Keistimewaan itu bukan terletak pada sikap imannya yang total kepada Yesus, atau karena karya-karyanya yang spektakuler, tetapi karena keragu-raguannya (sikap skeptisnya). Dialah Rasul Thomas atau yang disebut Didimus (artinya: kembar) salah seorang dari anggota ‘dua belas’ yang dipilih langsung oleh Yesus.
Thomas menolak untuk percaya sebelum melihat Yesus yang telah bangkit secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bahkan ia ingin memastikannya dengan memasukan jarinya secara langsung pada bekas luka-luka Yesus ‘kedua tangan dan lambung-Nya’ barulah ia percaya (Yoh. 20:24-29). Keragu-raguannya itu kemudian membuat Tuhan Yesus menampakan diri delapan hari kemudian, setelah penampakannya yang pertama pada para murid-Nya (Yoh.20:26). Setelah Thomas melihat langsung dengan mata kepalanya dan menyentuh luka-luka Yesus ia pun percaya. Lantas siapakah Rasul Thomas itu, sehingga karena keragu-raguanya, Tuhan berkenan menampakan diri agar membuat Thomas menjadi percaya?.
Siapakah Rasul Thomas?
Thomas adalah salah satu dari anggota ‘dua belas’ rasul, yang dipilih langsung, dan ditetapkan oleh Yesus (Mat. 10:1-4; Luk. 6:12-16). Kisahnya tidak banyak diceriterakan dalam kitab suci khususnya pada keempat injil dalam Perjanjian Baru, namun berdasarkan tradisi-tradisi kekristenan awal, Thomas atau yang disebut Didimus, berasal dari Galilea, ia berprofesi sebagai seorang nelayan pembantu, karena tidak memiliki perahu seperti Petrus dan Andreas, Hidupnya hampir selalu serba kurang. Hal inilah yang membuatnya selalu bersikap selalu hati-hati, pesimis dan cepat menyangka akan terjadi hal yang buruk atas dirinya. Meskipun demikian, Thomas dikenal dalam lingkungan para murid Yesus sebagai seorang pemberani, hal ini nampak melalui sikapnya ketika Yesus memutuskan untuk kembali ke Yudea setelah memperoleh kabar tentang kematian Lazarus, padahal Yesus baru saja ditolak (dilempari dengan batu di daerah itu).
Thomas dengan tegas mengajak para murid Yesus untuk pergi bersama-sama dengan Yesus ke sana “Marilah kita juga pergi, biarlah kita mati bersama-sama dengan Dia!” (Yoh. 11:16). Dibalik sikapnya yang tegas dan pemberani Thomas juga adalah seorang yang terus terang, polos dan tidak malu-malu menyatakan ketidaktahuannya. Hal ini terlihat pada kisah Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berbicara tentang kepergian-Nya, Rasul Thomas bertanya dengan polos: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?”. Keraguan Thomas ini mengundang Yesus untuk menyingkap misteri keilahian-Nya yang mendalam itu dengan berkata: “Akulah jalan, Kebenaran dan Hidup, tak seorang pun dapat sampai kepada Bapa bila tidak melalui Aku” (Yoh. 14:4-5).
Pasca kematian Yesus di Kayu Salib, keyakinannya pada pengajaran dan sosok Yesus sebagai Putera Allah itu pun mulai goyah, seperti kebanyakan murid lainnya yang putus asa, demikian pun Thomas mengalami situasi yang sama. Kondisi traumatik dan kehilangan sosok Yesus yang begitu dipercayainya pasca ‘Peristiwa Golgota’ itulah yang kemudian membuat Thomas menutup diri, menghindari keramaian dan sangat berhati-hati untuk membuka diri dan percaya pada orang lain. Hal inilah yang kemudian membuat Thomas menjadi pribadi yang skeptis dan tidak ingin cepat mempercayai pemberitaan para murid tentang Yesus yang telah menampakan diri-Nya kepada mereka, apalagi saat itu Thomas tidak berada bersama-sama dengan mereka. Berhadapan dengan semua pemberitaan itu Thomas dengan tegas menyatakan sikapnya, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya, dan sebelum aku mencucukkan jariku kedalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20: 25).
Keragu-raguan Thomas itu pun dijawab secara tuntas oleh Yesus, ketika Ia menampakan diri-Nya untuk kedua kalinya, Yesus meminta Thomas untuk melakukan seperti apa yang diinginkannya, “mencucukkan jari ke dalam bekas paku itu dan tangannya ke dalam lambung Yesus”, dan ketika melakukan semua itu, Thomas pun percaya seketika, ia tersungkur di hadapan Yesus dan berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28). Seruan Thomas ini tidak hanya mengungkapkan kegagumannya pada sosok Yesus yang telah mengalahkan kematian, tetapi serentak pula mengungkapkan pengakuan imannya yang tulus dan total pada Yesus sebagai ‘Sang Hidup Kekal’.
Tentang sikap Thomas ini, Santo Agustinus menulis: “Dengan pengakuannya dan dengan menjamah luka Tuhan, ia sudah mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Ia melihat sesuatu dan percaya sesuatu yang lain. Matanya memandang kemanusiaan Yesus, namun imannya mengakui Ke-Allah-an Yesus, sehingga dengan suara penuh gembira tercampur penyesalan mendalam, ia berseru: Ya Tuhanku dan Allahku”. Di hadapan Sang Kekekalan itu, Thomas menyadari penuh bahwa ia adalah makluk yang terbatas, penyangkalan dan keragu-raguan itu harusnya membuat Thomas menerima hukuman, namun disitulah belas kasih dan kerahiman Allah dinyatakan. Thomas tidak dibuang tetapi dilayakan untuk masuk dan menyelami misteri kerahiman itu ketika ia sendiri menyentuh “luka-luka suci” Yesus dan kemudian menjadi percaya.
Tentang karya kerasulan Thomas sesudah peristiwa kebangkitan Yesus, Kitab Suci tak menyebutkan apa-apa lagi, juga tidak ada sepucuk surat peninggalan Rasul Thomas yang ditinggalkannya. Menurut tradisi, yang disampaikan oleh Santo Ambrosius dan Hieronimus, Thomas menyebarkan kabar gembira (injil) ke arah Timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu ke Sirya, Armenia, Persia dan India. Di dekat Madras, di kota Malaipur, Thomas menerima mahkota kemartirannya. Orang Kristen India Selatan, lebih-lebih di sepanjang pantai Syro-Malabar percaya bahwa Thomas menobatkan Raja Gondaphur (sekarang Bombay) dan bahwa mereka keturunan orang-orang Kristen abad pertama. Rasul Thomas menempuh jalan kemartirannya dengan mati ditusuk tombak, dan relikiunya masih tetap ada sewaktu makamnya dibuka kembali pada tahun 1523.
Thomas & Keragu-Raguannya
Reaksi Thomas yang skeptis terhadap pemberitahan para murid tentang penampakan Yesus itu, rupa-rupanya mendapat tempat istimewah di hati Yesus, pada penampakan berikutnya Yesus secara langsung menyatakan diri-Nya di hadapan Thomas, bahkan hanya kepada Thomas-lah, Yesus mememinta agar ia sendirilah yang memasukan jari dan tangannya secara langsung ke dalam bekas paku pada kedua tangan Yesus, juga pada lambungnya, dengan tujuan supaya Thomas menjadi percaya dan tidak lagi ragu-ragu/skeptis. Pertanyaannya adalah, “Seberapa istimewah Rasul Thomas, sehingga Yesus berkenan menampakan diri kedua kalinya, hanya untuk membuatnya percaya?”. Yesus tentu tahu bahwa bukan hanya Thomas, tetapi masih banyak orang dari kalangan para murid-Nya yang belum sungguh-sungguh percaya akan kebangkitan-Nya.
Dari rekan-rekan lainya, Rasul Thomas menjadi istimewa karena dialah yang paling jujur dan polos untuk menyatakan sikap penolaknya, sampai ia sendiri dapat membuktikannya secara langsung. Itulah sebabnya setelah Thomas percaya Yesus pun berkata, “karena melihat Aku kamu menjadi percaya, berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya” (Yoh. 20:29). Keragu-raguan Thomas bukan sebuah rekayasa yang dibuat-buat, tetapi sebuah reaksi yang jujur untuk memisahkan (discermen) antara kenyataan dan halusinasi, antara dunia faktual dan khayalan. Di satu sisi, Thomas menyadari bahwa kelekatan dan kebergantungan hidup yang begitu erat dengan Yesus membuat para murid belum dapat menerima sepenuhnya bahwa Yesus telah ‘berpisah’ dengan mereka untuk selama-lamanya, sehingga dapat saja muncul fantasy atau khayalan-khayalan mereka yang berlebihan pada Yesus.
Di lain sisi, persitiwa kematian Yesus di puncak golgota, telah menyebar luas dan diketahui semua orang melalui pengakuan para saksi mata yang menyaksikan peristiwa tragis tersebut. Thomas mungkin menginginkan agar para murid Yesus dapat belajar untuk iklas dan menerima bahwa mereka telah kehilangan sosok Yesus, guru dan pimpinan mereka tanpa banyak mempersoalkannya lagi. Thomas pun tak ingin larut dalam halusinasi yang menyesatkan, sebab setan pun dapat hadir menyerupai sosok Yesus. Di tengah reaksi ‘gegap-gempita’ para murid pasca penampakan Yesus, Thomas tetap berpegang teguh pada keyakinannya, ia mengambil jalan yang tegas “melihat untuk percaya!”. Dalam perspektif iman, Thomas mungkin adalah pribadi yang lamban untuk percaya, sebab mengenai kebangkitan-Nya, Yesus telah lebih dahulu mengatakannya kepada mereka, bahkan Thomas pun hadir sebagai saksi mata pada saat Yesus membangkitan Lazarus yang telah mati dan dikuburkankan selama empat hari.
Sebab, bila Yesus mampu membangkitkan Lazarus, atau anak perempuan Yairus juga seorang pemuda di Nain, bagaimana mungkin maut lebih berkuasa atas diri-Nya?. Yesus pun telah menegaskan hal itu kepadanya dengan mengatakan, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup”, bukankah dengan demikian Thomas tak perlu lagi ragu?. Thomas memang lamban dalam imannya, namun keteguhan pada prinsipnya menuntunnya untuk tetap menjadi ‘waras’ di tengah gempuran pemberitaan yang ‘berseliweran’ saat itu tentang kebangkitan Yesus sampai ia sendiri melihat dan percaya. Di era digitalisasi seperti saat ini, sikap dan pandangan Rasul Thomas dapat dijadikan sebagi panutan agar kita tetap rasional di tengah gempuran penyebarluasan berita-berita maupun informasi hoax (berita bohong) yang dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan. Thomas menampilkan keaslian dirinya sebagai seorang manusia ‘pencari’ yang tidak otomatis menerima begitu saja. Sebagai seorang rasul yang dekat dengan Yesus, ia tentu memiliki kerinduan terdalam untuk berjumpa lagi dengan Yesus setelah wafat-Nya, tetapi nalurinya sebagai manusia tetap meminta pertanggungjawaban rasional untuk menyaksikan kebenaran yang orisinil (asli) tanpa rekayasa maupun halusinasi tentang Yesus yang ‘hidup’ kembali, sebab bukankah iman juga membutuhkan pertanggungjawaban?.
Menyelami Misteri Kerahiman Ilahi
Tindakan Thomas yang skeptis pada Yesus, tidak serta-merta membuat Yesus marah dan menghukum Thomas, melainkan Ia hadir untuk membuat Thomas semakin percaya. Yesus mengizikan Thomas menyelami misteri kerahiman ilahi-Nya yang luas dan dalam bagai samudera yang tak terselami itu, saat Thomas mencucukkan jari dan tanganya pada bekas luka-luka Yesus “tangan dan lambungnya”. Yesus mengingikan agar Thomas percaya bahwa Dialah Yesus yang mereka kenal, bukan hantu. Bekas luka-luka-Nya itu menjadi bukti bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah Allah yang menjadi manusia, Ia bukanlah Allah yang jauh dari kehidupan manusia, melainkan Allah yang dekat, tinggal bersama-sama dan turut merasakan penderitaan, rasa sakit, dikhianati kesengsaraan dan kematian. Ia rela menerima dan menanggung semua itu agar manusia diselamatkan, meski Ia sendiri tidak layak untuk menanggungnya.
Penderitaan dan kesengsaraan yang dialami-Nya semakin menampakan belas kasih dan kerahimannya bagi manusia. Rasul Thomas adalah saksi dari belas kasih dan kerahiman itu, keragu-raguan Thomas tidak menjadi jurang pemisah antara Allah dan dirinya, justru keragu-raguan itu membuat Thomas semakin ditarik masuk kedalam belas kasih Sang Kerahiman. Dengan menyentuh luka-luka itu, Thomas merasakan betapa Allah begitu mengasihi manusia, sebab dari luka-luka itulah terpancar keselamatan bagi dunia. Pancaran keselamatan dari luka-luka kudus itu turut pula disaksikan oleh Suster Faustina Kowalska, seorang biarawati sederhana asal Polandia. Kepada Faustina Yesus menginginkan agar kerahiman dan belas kasih yang memancar dari luka-luka-Nya itu disampaikan ke seluruh dunia.
Meskipun Yesus berulang kali menampakan diri-Nya dan meminta Faustina untuk menyebarluaskan pesan-pesan kerahiman itu, namun ia sendiri menghadapi berbagai hambatan dan penolakan, bukan dari mereka yang berada jauh di luar gereja melainkan dari dalam gereja sendiri yang ‘skeptis’ terhadap kesaksiannya. Di kemudian hari, pesan-pesan kerahiman ilahi itu disebarluaskan oleh Paus Yohanes Paulus II (1920-2005) yang dikenal sebagai ‘Paus Kerahiman Ilahi’ saat ia menerbitkan ensiklilknya Dives in Misericordia (1980), ia juga mengkanonisasi Suster Maria Faustina Kowalska sebagai Rasul Kerahiman Ilahi pada 30 April 2000 dan menetapkan minggu pertama setelah paskah sebagai Pesta Kerahiman Ilahi. Paus Yohanes Paulus II wafat pada 2 April 2005 pada malam minggu Kerahiman Ilahi, yang semakin mengukuhkan hubungannya dengan devosi kerahiman ilahi.
Rasul Thomas, Suster Faustina Kowalska, serta mendiang Paus Yohanes Paulus II adalah mereka yang diizinkan Yesus untuk masuk ke dalam misteri kerahiman ilahinya yang penuh belas kasih. Dari pengalaman hidup, kesaksian dan pewartaan mereka kita belajar tentang Kasih Allah yang senantiasa dicurahkan setiap waktu bagi kita yang selalu menghormati pengurbanan Putera-Nya Yesus Kristus. Allah mengasihi kita tanpa batas dan tanpa syarat, seperti seorang Bapa yang selalu menanti anaknya yang hilang untuk kembali (Luk. 15:11-32). Dengan merenungkan secara mendalam penderitaan dan wafat Yesus, teristimewa melalui luka-luka-Nya yang kudus, kita tidak hanya dipanggil seperti Thomas untuk menyentuhnya langsung, tetapi siap sedia untuk mewatakan kepada dunia bahwa melalui luka-luka itulah kita disembuhkan dan dipulihkan dari dosa-dosa kita dan seluruh dunia, “Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia”.
Belajar Dari Rasul Thomas
Keragu-raguan atau sikap skeptis tidak selamanya berkonotasi negatif, sebab dari seorang Rasul Thomas kita belajar bahwa untuk sampai pada sebuah kebenaran kita perlu menyangsikan segala hal terlebih dahulu. Para Filsuf modern seperti Rene Descartes yang dijuluki sebagai Bapa Rasionalisme modern (1596-1650), atau Edmund Husserl (1859-1938) yang terkenal dengan konsepnya “Epoche Fenomenologi” menggunakan metode ‘penyangsian’ (negasi) sebagai jalan untuk mencapai kebenaran. Dalam pandangan Husserl, untuk mencapai kebenaran maka segala bentuk fenomena: asumsi maupun prasangka-prasangka yang belum dapat dibuktikan kebenaranya perlu dikurung/disimpan (bracketing) terlebih dahulu, agar tidak mengganggu penalaran rasional (kesadaran/pemikiran murni) terhadap kebenaran.
Rene Descartes bahkan lebih ekstrem lagi dengan menggunakan metode penyangkalan terhadap seluruh eksistensi manusiawinya yang dimulai dari penyangsian akan pengamatan panca inderanya (panca indera dapat menipuh), hayalan/mimpi/halusinasi yang sering tidak dapat dibedakan dengan kenyataan, hingga sampai pada penyangsian akan pemikirannya yang kadang-kadang dapat disesatkan oleh setan jahat (maline genie). Hingga ia pun menyimpulkan bahwa yang dapat ia percayai adalah kesadaran tentang dirinya yang sedang berpikir (cogito ergo sum). Meskipun di kemudian hari gagasan-gagasan ini ditentang oleh para filsuf setelahnya, namun gagasan-gagasan mereka tentang jalan penyangsian (skeptis) sangat bermanfaat untuk membantu manusia dalam menyeleksi segala bentuk ide, gagasan, pemikiran informasi dari dalam maupun luar diri manusia yang logis (masuk akal) dan dapat dipertanggungjawabakan secara rasional.
Berbeda dengan para filsuf, sikap skeptis Thomas bukanlah sebuah ‘metode’ yang sengaja digunakan untuk menguji kebenaran dibalik ceritera tentang penampakan Yesus, tetapi sikap itu lahir dari kedalaman hatinya, setelah mengalami pergolakan batin yang teramat berat, dengan kata lain sikap tersebut bukanlah sebuah kepura-puraan untuk memancing respon/tanggapan Yesus, tetapi sebuah reaksi tulus yang keluar dari dirinya. Thomas membutuhkan peneguhan untuk percaya, ia membutuhkan jamaan Tuhan demi memuaskan dahaganya akan kebenaran Ilahi. Tuhan mengetahui kedalaman dan ketulusan hatinya, maka Ia berkenan menampakan diri-Nya agar Thomas semakin teguh percaya kepada-Nya. Pengalaman Thomas mengajarkan bahwa setiap orang yang jujur dan tulus hatinya untuk merenungkan dan mencari hikmat Tuhan akan menemukan jalannya.
Thomas mengalami betapa ia begitu dikasihi oleh Tuhan, penyangkalannya tidak membuat Tuhan menjadi murka, justru sebaliknya Tuhan menampakan belas kasih dan kerahimannya bagi Thomas dengan memperlihatkan luka-luka-Nya yang kudus. Siapakah Thomas sehingga ia harus menyangsikan eksistensi Tuhan yang jauh melampaui segala hikmat dan pengetahuan manusia yang terbatas?. Penampakan Yesus pasca kebangkitan-Nya, sekali lagi menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan yang penuh kuasa, kehadiran-Nya tidak bergantung pada keragu-raguan, sikap skeptis ataupun pada segala bentuk penyangkalan manusia dan dunia terhadapan-Nya. Dia adalah alfa dan omega (awal dan akhir), Dia tetap eksis meskipun disangkal dan tetap hidup meskipun dibunuh, “kepadanyalah segala makluk bertekut lutut dan segala lidah memuji-Nya” (Fil. 2:10-11).
Sumber referensi:
Alkitab Deuterokanonika, Terjemahan Baru Edisi Kedua (TB2), Jakarta 2023.
Biografi Rene Descartes dalam: https://www.kompasiana.com/nabilla6679/6516b89908a8b50cca5073a2/biografi-rene-descartes, diakses pada tgl. 10 April 2026.
Christian Heritage Fellowship, Mengenang Rasul Thomas, dalam: https://christianheritagefellowship.com/remembering-the-apostle-thomas/, diakses pada tgl. 10 April 2026.
Iman Katolik, Media Informasi dan Sarana Katekese, Santo Thomas Rasul, dalam: https://www.imankatolik.or.id/kalender/3Jul.html., diakses pada tgl. 10 April 2026.
Kerahiman Ilahi dalam: https://www.thedivinemercy.org/message/devotions/chaplet-history, diakses pada tgl. 10 April 2026.
Standford Encylopedia Of Philosophy, Edmund Husserl, dalam: https://plato.stanford.edu/entries/husserl/, diakses pada tanggal 10 April 2026.



