1. Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kita kini telah memasuki Minggu Kelima Masa Prapaskah, sebuah titik penting dalam perjalanan rohani kita menuju Paskah. Kita semakin mendekati misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Bacaan-bacaan hari ini mengundang kita untuk merenungkan tentang belas kasih Allah yang tak terbatas, kesempatan kedua, dan panggilan untuk meninggalkan yang lama demi merangkul yang baru, sebuah panggilan yang sangat relevan di tengah “era disrupsi” yang menuntut kita untuk terus beradaptasi dan memperbarui diri.

Injil hari ini dari Yohanes (Yoh 8:1-11) menyajikan sebuah kisah yang sangat kuat dan menyentuh hati. Kita melihat seorang perempuan yang tertangkap basah berzina, diseret ke hadapan Yesus oleh para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka datang bukan untuk mencari keadilan, melainkan untuk menjebak Yesus. Hukum Musa jelas: perempuan itu harus dilempari batu sampai mati. Suasana penuh ketegangan, penghakiman, dan kebencian.

Namun, Yesus tidak langsung menjawab. Ia membungkuk dan menulis di tanah. Sebuah tindakan misterius yang mengundang kita untuk merenung. Mungkin Ia menuliskan dosa-dosa para penuduh, atau mungkin Ia hanya memberi waktu bagi mereka untuk merenung. Ketika mereka terus mendesak, Yesus bangkit dan mengucapkan kalimat yang mengguncang hati nurani mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu!”

Kata-kata ini adalah cermin bagi setiap orang. Satu per satu, mulai dari yang tertua, mereka pergi meninggalkan perempuan itu. Mereka menyadari bahwa mereka pun tidak luput dari dosa. Akhirnya, hanya Yesus dan perempuan itu yang tersisa.

Di sinilah belas kasih Allah dinyatakan secara paling indah. Yesus tidak menghukum perempuan itu. Ia tidak meremehkan dosanya, tetapi Ia menawarkan pengampunan dan kesempatan kedua: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Ini adalah inti dari misi Yesus: bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan; bukan untuk mengutuk, melainkan untuk membebaskan dan memberikan hidup baru.

Saudara-saudari, kisah ini berbicara kepada kita semua. Siapa di antara kita yang tidak pernah berdosa? Siapa di antara kita yang tidak pernah menghakimi orang lain, bahkan mungkin diri sendiri, dengan keras? Yesus mengajak kita untuk melihat ke dalam diri, mengakui kerapuhan kita, dan kemudian, seperti para penuduh itu, melepaskan batu penghakiman dari tangan kita.

Panggilan untuk “pergi, dan jangan berbuat dosa lagi” adalah panggilan untuk transformasi. Ini bukan sekadar pengampunan pasif, melainkan undangan aktif untuk memulai hidup yang baru.

Panggilan untuk hidup baru ini juga bergema dalam Bacaan Pertama dari Kitab Yesaya (Yes 43:16-21). Allah berfirman: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?”

Allah adalah Allah yang selalu membuat hal-hal baru. Ia tidak terpaku pada masa lalu kita, pada kegagalan atau dosa-dosa kita. Ia ingin membuka jalan di padang gurun hidup kita, mengalirkan sungai di tanah kering hati kita. Di tengah era disrupsi ini, di mana perubahan terjadi begitu cepat dan sering kali mengancam, janji Allah untuk membuat “sesuatu yang baru” adalah sumber harapan dan kekuatan. Ia mengajak kita untuk tidak takut melepaskan cara-cara lama yang mungkin sudah tidak relevan, dan berani menyambut inovasi dan pembaruan yang datang dari-Nya.

Bagaimana kita menyambut “sesuatu yang baru” ini? Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua dari Surat Filipi (Fil 3:8-14) memberikan teladan. Ia, yang dulunya seorang Farisi yang taat dan berprestasi, menganggap segala sesuatu sebagai kerugian demi mengenal Kristus. Ia berkata: “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari mengejar tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Paulus menunjukkan kepada kita bahwa merangkul yang baru membutuhkan sebuah pilihan radikal: meninggalkan yang lama. Meninggalkan dosa, meninggalkan kebanggaan diri, meninggalkan penghakiman, bahkan meninggalkan pencapaian-pencapaian masa lalu yang bisa menghalangi kita untuk maju. Ini adalah semangat Prapaskah: sebuah waktu untuk melepaskan beban, membersihkan diri, dan memfokuskan kembali pandangan kita pada Kristus sebagai tujuan akhir. Di tengah disrupsi yang sering kali membuat kita merasa tidak aman, Paulus mengingatkan kita untuk berpegang teguh pada satu tujuan yang tak tergoyahkan: Kristus.

Dan Mazmur Tanggapan (Mzm 126:1-2ab, 2cd-3, 4-5, 6) menguatkan kita dengan janji: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Perjalanan Prapaskah adalah masa “menabur dengan air mata” – masa pertobatan, pengorbanan, dan disiplin diri. Ini mungkin terasa sulit, penuh perjuangan. Namun, janji Allah adalah sukacita yang melimpah, sukacita Paskah, sukacita hidup baru yang dianugerahkan-Nya.

Saudara-saudari terkasih,

Di Minggu Kelima Prapaskah ini, marilah kita merenungkan:

     

      1. Apakah ada “batu penghakiman” yang masih kita pegang? Terhadap orang lain, atau bahkan terhadap diri kita sendiri? Marilah kita melepaskannya, dan membiarkan belas kasih Kristus mengalir.

      1. Apakah kita berani menerima tawaran Allah untuk “membuat sesuatu yang baru” dalam hidup kita? Apakah kita siap meninggalkan kebiasaan lama, dosa-dosa yang mengikat, atau bahkan cara berpikir yang sempit, demi merangkul pembaharuan yang datang dari-Nya? Ini adalah panggilan untuk terus berinovasi dalam iman kita, mencari cara-cara baru untuk menghadirkan Kristus di tengah dunia yang terus berubah.

      1. Apakah kita, seperti Paulus, “melupakan apa yang di belakang” dan “mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan”? Mari kita fokus pada Kristus, tujuan sejati hidup kita, dan terus berlari mengejar panggilan surgawi-Nya.

    Masa Prapaskah adalah kesempatan emas untuk mengalami belas kasih Allah yang membebaskan dan memulai hidup yang baru. Jangan biarkan masa lalu menghalangi kita. Jangan biarkan ketakutan akan perubahan di era disrupsi ini membuat kita terpaku. Allah kita adalah Allah yang penuh belas kasih, yang selalu memberikan kesempatan kedua, dan yang selalu membuat hal-hal baru.

    Marilah kita menyambut tawaran-Nya dengan hati yang terbuka, bertobat, dan melangkah maju dengan iman dan harapan, menuju sukacita Paskah yang akan datang. Amin.

    10 Post

    Costantinus Fatlolon

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    toto slot

    wpChatIcon
    wpChatIcon