Oleh: RD. Costantinus Fatlolon

Oleh: RD. Costantinus Fatlolon

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Malam ini adalah malam yang paling suci dalam kalender liturgi kita, “ibu dari segala vigili.” Kita telah menempuh perjalanan dari kegelapan Jumat Agung dan keheningan Sabtu Suci, dan kini, dalam cahaya lilin Paskah yang agung, kita merayakan kemenangan cahaya atas kegelapan, kehidupan atas kematian, dan cinta atas dosa. Malam ini, kita berseru dengan sukacita yang meluap: Kristus telah bangkit! Alleluia!

Bacaan Injil kita malam ini, dari Matius 28:1-10, membawa kita langsung ke jantung misteri Paskah. Mari kita merenungkan kisah yang luar biasa ini.

1. Keberanian di Tengah Kesedihan (Mat. 28:1-4)

Injil Matius memulai dengan gambaran dua Maria—Maria Magdalena dan Maria yang lain—yang pergi ke kubur pada hari Minggu pagi, menjelang fajar. Mereka datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk meratapi dan mengurapi jenazah Yesus. Hati mereka pasti dipenuhi kesedihan, kekecewaan, dan mungkin juga ketakutan. Mereka menghadapi batu besar yang menutup kubur, simbol dari penghalang yang tak teratasi, dari akhir yang tak terhindarkan.

Namun, di tengah kesedihan mereka, ada keberanian. Keberanian untuk tetap setia, untuk datang ke tempat di mana harapan mereka terkubur. Dan di sanalah, di tempat yang paling gelap, Allah menyatakan kuasa-Nya. Terjadilah gempa bumi yang dahsyat, seorang malaikat Tuhan turun dari langit, menggulingkan batu itu, dan duduk di atasnya. Penampilannya seperti kilat, pakaiannya putih seperti salju. Para penjaga yang perkasa pun gemetar ketakutan dan menjadi seperti orang mati.

Ini adalah gambaran yang kuat: kuasa duniawi (para penjaga) lumpuh di hadapan kuasa ilahi. Batu yang tak tergerakkan oleh manusia, digulingkan dengan mudah oleh malaikat Tuhan. Ini adalah tanda bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.

2. Pesan “Jangan Takut!” dan Proklamasi Kebangkitan (Mat. 28:5-7)

Malaikat itu kemudian berbicara kepada para wanita, dan kata-kata pertamanya sangat penting: “Jangan takut!” Ini adalah seruan yang sering kita dengar dalam Kitab Suci ketika Allah atau utusan-Nya menyatakan diri. Mengapa? Karena kehadiran ilahi seringkali menakutkan bagi manusia yang terbatas. Namun, di sini, “jangan takut” juga berarti jangan takut akan kematian, jangan takut akan kesedihan, jangan takut akan masa depan.

Lalu, malaikat itu menyampaikan kabar yang mengubah segalanya: “Aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.” Inilah inti dari iman kita! Yesus tidak lagi di kubur. Ia telah bangkit! Ini bukan sekadar kebangkitan dari kematian, melainkan kemenangan atas kematian itu sendiri. Ini adalah janji yang digenapi, nubuat yang menjadi kenyataan.

Malaikat itu kemudian mengundang mereka: “Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.” Ini adalah undangan untuk memverifikasi, untuk melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kubur itu kosong. Dan setelah itu, datanglah perintah: “Pergilah segera dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.” Para wanita ini menjadi pewarta pertama Kabar Gembira Kebangkitan! Mereka diutus untuk memberitakan sukacita ini kepada yang lain.

3. Perjumpaan dengan Tuhan yang Bangkit dan Misi Kita (Mat. 28:8-10)

Para wanita itu segera meninggalkan kubur “dengan takut dan sukacita yang besar.” Perhatikanlah dua emosi yang kontras ini: takut dan sukacita. Takut mungkin karena keagungan peristiwa yang mereka saksikan, atau karena tanggung jawab besar yang diberikan kepada mereka. Sukacita karena kabar yang luar biasa itu. Ini adalah pengalaman manusiawi yang mendalam: ketika kita berhadapan dengan misteri ilahi, seringkali ada campuran kekaguman, ketakutan, dan sukacita yang meluap.

Kemudian, terjadilah perjumpaan yang paling indah: Yesus sendiri menyongsong mereka! Ia menyapa mereka dengan “Salam bagimu!” (yang juga bisa berarti “Bersukacitalah!”). Mereka mendekat, memeluk kaki-Nya, dan menyembah-Nya. Ini adalah perjumpaan yang nyata, fisik, dan penuh kasih. Tuhan yang bangkit tidak jauh, Ia hadir di tengah-tengah mereka.

Sekali lagi, Yesus mengulangi pesan yang sama: “Jangan takut! Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Pesan “jangan takut” ditegaskan kembali oleh Tuhan sendiri. Dan misi untuk pergi ke Galilea juga diulang. Galilea adalah tempat di mana Yesus memulai pelayanan-Nya, tempat kehidupan sehari-hari mereka. Ini berarti bahwa perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit tidak hanya terjadi di tempat-tempat suci, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam pekerjaan, keluarga, dan komunitas kita.

Saudara-saudari terkasih,

Malam ini, Injil Matius tidak hanya mengabarkan peristiwa kebangkitan. Ia juga mengabarkan cara hidup Gereja setelah Kebangkitan, yaitu (1) takut harus didengarkan, tetapi tidak boleh memimpin dan menguasai hidp kita, (2) sukacita harus tumbuh, tetapi tidak boleh berhenti sebagai emosi, dan (3) kebangkitan harus menjadi pewartaan.

Dengan kata lain, kebangkitan bukan sekadar kemenangan di masa lalu; kebangkitan adalah panggilan untuk keluar dari dosa, bergerak dalam kebaikan, dan menjadi saksi kabar yang hidup.

Malam ini, kita adalah para wanita itu. Kita datang dari “kubur” kita sendiri—kubur dosa, keraguan, kesedihan, ketakutan, dan keputusasaan. Kita mungkin merasa terhalang oleh “batu-batu” masalah hidup yang besar.

Namun, malam ini, kita mendengar seruan yang sama: “Jangan takut!” Kristus telah bangkit! Ia telah mengalahkan dosa dan maut. Ia telah menggulingkan batu-batu yang menghalangi kita.

Malam ini Yesus mengajak kita untuk jangan takut akan kegagalan masa lalu, karena dalam Kristus ada pengampunan dan awal yang baru. Jangan takut akan tantangan masa depan, karena Kristus yang bangkit menyertai kita. Jangan takut akan kematian, karena Kristus telah membuka jalan menuju kehidupan kekal.

Malam ini, kita juga diundang untuk melihat “kubur yang kosong” dalam hidup kita. Santo Tomas Aquinas menjelaskan bahwa “kubur” dalam arti simbolis menunjuk pada keadaan dosa; maka “keluar dari kubur” berarti keluar dari dosa. Ini tidak berarti dosa itu seperti mitos. Dosa adalah kenyataan spiritual: sesuatu yang “mengurung” hidup kita.

Kita dapat bertanya: “Di mana kubur dalam hidupku?” Mungkin bukan kubur fisik. Mungkin yang mengunci kita adalah: kebiasaan berdosa yang terasa sulit dilepaskan, rasa takut yang membuat kita berhenti mencintai, atau diam rohani: kita tahu kebenaran, tetapi kita tidak lagi “bergerak” untuk menyampaikannya.

Injil Matius memberi kita obat: keluar dengan cepat, berlari. Santo Thomas Aquinas menghubungkan “berlari memberitahukan” dengan panggilan orang yang bertobat, yaitu untuk segera bertumbuh dalam kebaikan—dan dengan kehendak agar apa yang diterima dibagikan kepada orang lain. Keluar dan berlari merupakan tindakan, bukan semata perasaan, dan tindakan itu menuju misi, yakni “beritahukan kepada murid-murid.”

Seperti para wanita itu, kita dipanggil untuk menjadi pewarta kebangkitan. Kita diutus ke “Galilea” kita masing-masing—ke rumah kita, tempat kerja kita, sekolah kita, komunitas kita—untuk memberitakan dengan sukacita bahwa Yesus hidup!

Bagi saudara-saudari kita yang malam ini menerima Sakramen Baptis, Krisma, dan Ekaristi, ini adalah kebangkitan pribadi kalian. Kalian bangkit bersama Kristus menuju hidup yang baru. Bagi kita semua yang memperbarui janji baptis, ini adalah kesempatan untuk bangkit kembali dalam iman, harapan, dan kasih.

Marilah kita pulang dari perayaan agung ini dengan hati yang dipenuhi sukacita dan keberanian. Biarkanlah cahaya Kristus yang bangkit menerangi setiap sudut kehidupan kita, dan biarkanlah kita menjadi saksi-saksi-Nya yang hidup di dunia ini.

Kristus telah bangkit! Sungguh Ia telah bangkit! Alleluia! Amin.

Poka, 4 April 2026

PCF

13 Post

Costantinus Fatlolon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

toto slot

wpChatIcon
wpChatIcon