Oleh: RD. Costantinus Fatlolon
Kebangkitan Kristus tidak pertama-tama dimulai dari “kepastian pikiran”, melainkan dari perjalanan iman: seseorang mencari, melihat, bingung, namun akhirnya dibawa kepada pengertian yang lebih dalam tentang Sabda Allah. Pada Minggu Paskah ini, Injil Yohanes mengajak kita masuk ke ruang batu yang tersingkap—dan menanyakan: apa yang sebenarnya membuat iman bertumbuh—bukti lahiriah, atau Sabda yang dibuka?
Eksposisi: “Ia melihat… dan ia percaya” (Yohanes 20:1-9)
“Pagi-pagi sekali pada hari pertama minggu itu, ketika masih gelap,” Maria Magdalena datang ke makam dan “melihat bahwa batu telah diangkat.” Kalimat sederhana ini sungguh padat makna: Paskah terjadi di dalam malam yang belum terang. Maria belum datang sebagai orang yang sudah berpengetahuan penuh; ia datang sebagai orang yang sedang mencari—namun situasi di sana justru membuatnya makin gelisah.
Maria tidak tinggal diam. Ia “berlari” dan pergi kepada Simon Petrus dan murid lain yang Yesus kasihi, lalu menyampaikan keyakinan yang muncul dari kebingungan hatinya: “Mereka telah mengambil Tuhan dari kubur itu, dan kami tidak tahu di mana mereka meletakkannya.” Ada pola yang penting di sini: iman Paskah bukan sikap pasif. Bahkan ketika hati masih berteriak oleh pertanyaan, ia tetap bergerak menuju komunitas—menuju Petrus.
Lalu Yohanes memberi gerak yang cepat: “Petrus dan murid yang lain itu berangkat ke kubur.” Mereka “berlari bersama-sama,” tetapi murid lain “lebih cepat” dan tiba lebih dahulu. Namun ketika ia tiba, ia hanya “membungkuk untuk melihat ke dalam,” dan “ia tidak masuk.” Ini mengungkapkan sesuatu yang sering terjadi: ada orang yang dapat melihat sesuatu, tetapi belum sanggup “memasuki” sepenuhnya misteri yang dihadapinya.
Kemudian “Simon Petrus… masuk ke dalam kubur.” Di sana ia melihat tanda-tanda yang tidak sekadar “kosong”, melainkan tertata: kain-kafan terletak; dan lebih lagi, “kain yang tadinya di kepala-Nya… tidak terletak dengan kain-kafan itu, melainkan digulung di tempat yang terpisah.” Detail ini penting: Yohanes tidak mereduksi Paskah hanya menjadi “hilangnya mayat”. Justru penataan benda-benda kuburan menjadi semacam jejak bahwa yang terjadi tidak sama dengan pencurian kasar.
Akhirnya, “murid yang lain… masuk juga,” ia melihat, lalu “percaya.” Namun Yohanes menegaskan sesuatu yang mengejutkan sekaligus jujur: iman yang baru lahir itu belum langsung menjadi pemahaman penuh. Sebab ia menambahkan, “sebab mereka belum mengerti Kitab Suci… bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.”
Di sinilah Yohanes menuntun kita masuk ke pusat ajaran iman Paskah: ada langkah awal, yaitu melihat dan percaya, tetapi pengertian iman kemudian diperdalam saat Kitab Suci dibuka.
Komentar Santo Tomas Aquinas menegaskan cara membaca “ia melihat dan ia percaya”: pada tahap awal, ia “melihat kubur yang kosong” dan percaya pada berita yang dibawa Maria; tetapi “belum mengerti Kitab Suci” tentang bagaimana seharusnya kebangkitan terjadi menurut rencana Allah. Dengan kata lain, Paskah menumbuhkan iman melalui dua gerak: gerak lahiriah (melihat tanda) dan gerak batiniah (dibimbing menuju terang Sabda).
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Dalam tradisi penafsiran, kondisi “masih gelap” menunjuk pada keadaan batin: Maria sedang mencari Kristus, namun karena belum melihat terang, ia mengira tubuh-Nya telah diambil. Tetapi justru karena “masih gelap”, ia tidak menyerah. Ia membawa gelisahnya kepada komunitas.
Ada pula detail “kain kafan” yang terletak rapi. Tradisi penafsiran menjelaskan bahwa bila seseorang mencuri tubuh, ia tidak akan mengatur kain penutup kepala dengan cara terpisah dan terlipat seolah-olah ada kehendak yang tertib. Di sini Yohanes sedang mengajar kita bahwa Paskah bukan lelucon kebetulan. Allah bekerja dengan cara yang tidak hanya membingungkan rasa ingin tahu manusia, tetapi juga membentuk iman yang mampu mengerti.
Lebih dalam lagi, gambaran “dua murid berlari”—yang satu lebih cepat, yang satu menyusul—mengungkapkan bahwa pencarian rohani sering tidak sama kecepatannya. Ada yang tiba lebih dulu karena semangat, ada yang menyusul karena keteguhan. Tetapi pada akhirnya, keduanya dipanggil untuk masuk ke dalam realitas tanda.
Apakah pelajaran penting dari semua cerita kebangkitan itu bagi kita? Bagaimana semuanya ini masuk ke kehidupan kita sehari-hari?
Pertama, dari kesedihan menuju harapan: seperti Maria Magdalena, kita sering kali memulai perjalanan iman kita dengan kesedihan, keraguan, atau kebingungan. Kita mungkin merasa “Tuhan telah diambil” dari hidup kita, dalam bentuk kehilangan, kegagalan, atau penderitaan. Namun, Paskah mengingatkan kita bahwa kubur yang kosong bukanlah akhir, melainkan awal dari harapan yang baru.
Kedua, pentingnya mencari dan bersaksi. Maria Magdalena berlari untuk memberitahu. Petrus dan Yohanes berlari untuk melihat. Kita pun dipanggil untuk mencari Kristus yang bangkit dalam hidup kita, dan ketika kita menemukan-Nya, kita dipanggil untuk bersaksi tentang kebenaran-Nya.
Ketiga, iman melalui tanda-tanda. Yohanes percaya bukan karena ia melihat Yesus yang bangkit, melainkan karena ia melihat tanda-tanda kebangkitan. Dalam hidup kita, kita mungkin tidak selalu mengalami mukjizat yang spektakuler, tetapi kita dapat melihat tanda-tanda kehadiran Kristus yang bangkit dalam kebaikan sesama, dalam kekuatan yang kita terima di tengah kesulitan, dalam damai sejahtera yang melampaui pemahaman, dan terutama dalam sakramen-sakramen Gereja.
Keempat, perjalanan pemahaman. Iman adalah sebuah perjalanan. Kita mungkin tidak selalu memahami sepenuhnya misteri-misteri Allah, tetapi kita dipanggil untuk terus belajar, merenungkan Kitab Suci, dan membiarkan Roh Kudus membimbing kita menuju pemahaman yang lebih dalam. Paskah mengoreksi cara kita menilai iman. Yohanes tidak memuji orang yang “sudah pasti benar” sejak awal. Ia menunjukkan iman yang mulai dari kebingungan dan ketakutan, lalu bertumbuh menjadi kepercayaan. Maka, jika dalam hidup kita ada malam-malam batin—ketika doa terasa hampa, ketika jawaban belum datang, ketika kita hanya melihat “tanda” dan belum memahami—Injil ini tidak menegur; Injil ini menemani.
Kelima, iman Paskah menuntut perubahan arah. Rasul Paulus mengungkapkannya dengan kalimat yang tegas: jika Anda “dibangkitkan bersama Kristus,” maka “carilah apa yang di atas.” Carilah tempat Kristus berada—bukan berarti kita melarikan diri dari bumi, melainkan menata ulang pusat pandangan Anda: yang dulu menjadi “titik berat” hidup, digantikan oleh Kristus.
Keenam, Paskah mengubah cara kita memandang komunitas. Maria tidak berkata, “Biarlah saya simpan sendiri.” Ia lari kepada Petrus dan murid lain. Dalam bacaan hari ini, Gereja juga menegaskan bahwa Allah tidak memihak dan kedekatan-Nya dinyatakan bagi semua . Dengan kata lain: iman Paskah bukan perjalanan individualistik; ia punya dimensi komunal—melalui kesaksian, pengajaran, dan dorongan saudara-saudari seiman.
Jika Yohanes menutup Injil ini dengan kalimat bahwa mereka “belum mengerti Kitab Suci”, maka langkah pertama untuk kita adalah memohon agar Kitab Suci benar-benar dibuka, bukan sekadar dibaca cepat lalu berlalu.
Bagaimana caranya kita mengaplikasikan hal ini dalam hidup harian?
Pertama, sediakan “waktu masuk ke dalam” Kitab Suci, seperti murid yang awalnya hanya membungkuk lalu akhirnya masuk. Mulailah dengan satu bagian Injil Paskah ini, lalu tanyakan: apa tanda yang kulihat? Apa berita yang kuceritakan? Apa hal yang belum kupahami? (Yohanes sendiri memperlihatkan keduanya: melihat/percaya, tetapi belum mengerti.)
Kedua, bawa kebingungan kita ke komunitas, seperti Maria yang “berlari” memberi kabar kepada Petrus. Jika kita merasa tidak bisa bicara dengan semua orang, mulailah dengan satu orang yang bisa dipercaya: untuk saling meneguhkan iman, bukan sekadar saling menambah kecemasan.
Ketiga, melatih “pencarian di atas” dalam tindakan kecil. Hari ini, Rasul mengatakan “Carilah apa yang di atas.” Maka, pilih satu kebiasaan nyata: satu keputusan etis yang lebih jujur, satu pengorbanan kecil untuk kebaikan, satu doa singkat sebelum keputusan penting. Bukan karena itu “menghasilkan rasa”, melainkan karena kita sedang belajar hidup yang berpusat pada Kristus.
Keempat, hubungkan Sabda dengan Ekaristi. Gereja mengingatkan bahwa pada musim Paskah, homili dan hidup rohani harus membangun jembatan kepada liturgi, sebab “Sabda yang dibacakan dan diproklamasikan” memiliki tujuan yang tak terpisahkan dengan “makan malam anugerah, yaitu Ekaristi,” dan Gereja menegaskan bahwa “kita tidak dapat memahami yang satu tanpa yang lain.”
Saudara-saudari terkasih dalam kristus,
Pada awal pagi yang masih gelap, batu tersingkap membuat Maria berjalan—dan membuat iman murid-murid mulai terbentuk. Dari “melihat” kepada “percaya,” dari kebingungan kepada pengertian yang lebih dalam—itulah jalan Paskah yang disajikan Yohanes.
Hari ini, kita diajak untuk tidak menunggu sampai semua menjadi jelas sepenuhnya baru percaya. Sebab Yohanes menunjukkan bahwa iman yang sejati dapat lahir dari tanda-tanda dan pencarian, lalu matang ketika Sabda Allah dibukakan.
Mari kita memohon kepada Tuhan yang bangkit: agar di tengah malam batin Anda, Ia tetap memberi kita langkah, yaitu agar kita berlari kepada komunitas, memasuki misteri dengan kerendahan, dan akhirnya mengerti bahwa kebangkitan-Nya bukan hanya peristiwa masa lalu, melainkan jalan Allah yang menuntun hidup kita. Amin.
Poka, 5 April 2026
PCF
Oleh: RD. Costantinus Fatlolon Oleh: RD. Costantinus Fatlolon Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Malam ini adalah…
Oleh: RD. Costantinus Fatlolon Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Pada Jumat Agung yang kudus ini,…
(Kel. 12:1-8; 11-14; 1Kor 11:23-26; Yoh. 13:1-15) Oleh: RD. Costan Fatlolon Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,…
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Kita kini telah memasuki Minggu Kelima Masa Prapaskah, sebuah titik penting…
This website uses cookies.