Oleh: RD. Costantinus Fatlolon

 

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pada Jumat Agung yang kudus ini, seluruh Gereja berdiam diri dalam kekhusyukan, merenungkan misteri agung yang melampaui segala akal budi: Yesus Kristus, Sang Cinta yang Tersalib. Hari ini kita tidak hanya mengenang sebuah peristiwa tragis, melainkan menyelami kedalaman kasih Allah yang tak terbatas, yang memilih jalan penderitaan dan kematian demi keselamatan kita.

Salib, yang pada mulanya adalah lambang kehinaan dan siksaan, kini menjadi takhta kemuliaan dan tanda kemenangan cinta. Di atas kayu salib itulah, kita menyaksikan puncak dari kasih ilahi yang rela mengosongkan diri, menyerahkan segalanya, bahkan nyawa-Nya sendiri.

Yesus: Perwujudan Cinta yang Tersalib

Cinta yang Mengosongkan Diri (Kénosis): Yesus, yang adalah Allah, tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah, melainkan mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:6-7). Di kayu salib, pengosongan diri ini mencapai puncaknya. Ia yang tak berdosa, rela menanggung dosa-dosa seluruh dunia. Ia yang adalah sumber kehidupan, rela merasakan kepedihan kematian. Ini adalah cinta yang tidak mencari keuntungan diri sendiri, melainkan sepenuhnya memberi diri demi kebaikan yang lain.

Cinta yang Menderita Demi Kita: Nubuat Yesaya tentang Hamba Yahweh yang menderita (Yesaya 53) dengan jelas menggambarkan Yesus. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya… Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Penderitaan Yesus bukanlah penderitaan yang sia-sia, melainkan penderitaan yang penuh makna, yang lahir dari cinta-Nya yang tak terbatas kepada kita. Ia menanggung segala sakit, hinaan, dan siksaan agar kita dapat disembuhkan, diampuni, dan didamaikan dengan Allah.

Cinta yang Setia dan Taat: Surat kepada orang Ibrani mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Imam Agung yang sempurna, yang “telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibrani 5:8). Cinta-Nya kepada Bapa mendorong-Nya untuk taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Ketaatan ini bukanlah paksaan, melainkan pilihan bebas yang lahir dari cinta yang mendalam. Ia setia pada misi-Nya untuk menyelamatkan kita, bahkan ketika itu berarti harus menanggung penderitaan yang tak terbayangkan.

Cinta yang Memberi Kehidupan: Dalam Injil Yohanes, kisah sengsara Yesus disajikan dengan penekanan pada kedaulatan dan cinta-Nya. Bahkan di kayu salib, Yesus tetap memikirkan ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya (Yohanes 19:26-27). Kata-kata-Nya, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30), bukanlah seruan kekalahan, melainkan proklamasi kemenangan cinta yang telah menggenapi rencana keselamatan. Dari lambung-Nya yang tertikam, mengalirlah darah dan air, simbol sakramen-sakramen yang menjadi sumber kehidupan baru bagi kita. Cinta-Nya yang tersalib adalah sumber kehidupan kekal.

Refleksi untuk Kita

Pada Jumat Agung ini, marilah kita tidak hanya melihat salib sebagai simbol penderitaan, tetapi sebagai altar di mana cinta terbesar dipersembahkan. Yesus di kayu salib adalah perwujudan nyata dari kasih Allah yang tak bersyarat, yang rela melakukan apa saja demi kita.

Bagaimana kita menanggapi cinta yang begitu besar ini? Apakah kita membiarkan cinta yang tersalib ini menyentuh hati kita, mengubah cara pandang kita, dan menginspirasi kita untuk mencintai?

Apakah kita bersedia memikul salib kita sendiri—yaitu kesulitan, tantangan, dan pengorbanan dalam hidup—dengan semangat cinta dan ketaatan kepada Allah?

Apakah kita mencintai sesama kita dengan cinta yang mengosongkan diri, yang rela berkorban, dan yang mengampuni, sebagaimana Yesus telah mencintai kita?

Jumat Agung adalah undangan untuk merenungkan kedalaman cinta Allah yang terungkap di kayu salib. Ini adalah panggilan untuk membiarkan cinta itu meresap ke dalam diri kita, sehingga kita pun dapat menjadi saksi-saksi cinta yang tersalib di dunia ini.

Dalam keheningan dan doa, marilah kita berlutut di hadapan salib, memohon rahmat untuk memahami dan menghayati misteri cinta yang agung ini, dan untuk membalasnya dengan seluruh keberadaan kita. Amin.

Poka, 3 April 2026

PCF

13 Post

Costantinus Fatlolon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

toto slot

wpChatIcon
wpChatIcon