renungan

Homili Hari Kamis Putih

(Kel. 12:1-8; 11-14; 1Kor 11:23-26; Yoh. 13:1-15)

Oleh: RD. Costan Fatlolon

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Malam ini adalah malam yang kudus, malam yang penuh makna dan misteri ilahi. Kita berkumpul di sini untuk merayakan Hari Kamis Putih, sebuah perayaan yang menjadi fondasi iman Katolik kita. Malam ini, kita mengenang tiga peristiwa agung yang saling terkait erat: (1) perjamuan terakhir Yesus dengan para murid-Nya, (2) penetapan Sakramen Ekaristi, penetapan Imamat, dan (3) perintah kasih yang diwujudkan dalam pembasuhan kaki.

Bacaan-bacaan suci yang baru saja kita dengar mengantar kita masuk ke dalam kedalaman misteri ini.

Dari Perjamuan Paskah Lama ke Paskah Baru

Bacaan pertama dari Kitab Keluaran (Kel. 12:1-8; 11-14) membawa kita kembali ke malam Paskah pertama, ketika bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Darah anak domba yang dioleskan pada tiang pintu menjadi tanda keselamatan, dan perjamuan Paskah menjadi peringatan akan tindakan penyelamatan Allah yang dahsyat. Ini adalah perayaan kebebasan, sebuah janji akan tanah terjanji.

Namun, perayaan Paskah Israel ini hanyalah bayangan dari Paskah yang lebih agung yang akan datang. Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang sejati, akan mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban penebusan, membebaskan kita dari perbudakan dosa dan kematian.

Ekaristi: Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani

Inilah yang kita rayakan malam ini, seperti yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua dari Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus (1Kor 11:23-26). Paulus mengingatkan kita akan apa yang ia terima dari Tuhan sendiri: “Bahwa Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti… dan sesudah itu Ia mengambil cawan… Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Saudara-saudari, inilah penetapan Sakramen Ekaristi, jantung dan pusat iman Katolik kita. Ekaristi bukanlah sekadar simbol atau kenangan kosong. Ekaristi adalah kehadiran nyata Yesus Kristus – Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian-Nya – yang hadir di bawah rupa roti dan anggur. Ini adalah kurban Kalvari yang dihadirkan kembali di setiap Misa, kurban yang sama yang dipersembahkan Yesus di kayu salib untuk keselamatan kita dengan perantaraan para imam. Santo Yohanes Krisostomus mengatakan: “Bukan manusia yang bertanggung jawab atas persembahan yang menjadi Tubuh dan Darah Kristus; melainkan Kristus Sendiri yang disalibkan untuk kita. Sosok yang berdiri itu adalah imam yang mengucapkan kata-kata ini. Kuasa dan rahmat adalah milik Allah. ‘Ini adalah Tubuh-Ku,’ kata-Nya. Dan kata-kata ini mengubah persembahan.”

Mengapa Ekaristi begitu penting dalam hidup kita sebagai orang Katolik?

  • Ekaristi adalah santapan rohani kita. Seperti tubuh membutuhkan makanan untuk hidup, jiwa kita membutuhkan Ekaristi untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan kekuatan ilahi.
  • Ekaristi adalah persekutuan kita dengan Kristus. Melalui Ekaristi, kita dipersatukan secara intim dengan Yesus, menjadi satu tubuh dengan-Nya.
  • Ekaristi adalah janji kehidupan kekal. Yesus sendiri bersabda, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54).
  • Ekaristi adalah sumber persatuan kita sebagai Gereja. Kita semua yang mengambil bagian dalam satu roti dan satu cawan, menjadi satu tubuh Kristus, saling terhubung dalam kasih.

Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (Lumen Gentium, 11). Dari Ekaristi mengalir segala rahmat, dan kepada Ekaristi segala aktivitas Gereja diarahkan. Tanpa Ekaristi, kita akan kehilangan pusat gravitasi iman kita, kehilangan kekuatan untuk menghadapi tantangan hidup, dan kehilangan arah menuju tujuan akhir kita. Marilah kita rajin mengikuti perayaan ekaristi. Santo Pio dari Pietrelcina mengatakan: “Seribu tahun menikmati kemuliaan manusia tidak sebanding dengan satu jam pun yang dihabiskan dengan manisnya persekutuan dengan Yesus dalam Sakramen Mahakudus.”

Ekaristi dan Pelayanan: Perintah Kasih yang Radikal

Namun, perayaan Ekaristi tidak berhenti di altar. Perayaan ini menuntut sebuah respons, sebuah tindakan nyata dalam hidup kita. Inilah yang Yesus tunjukkan kepada kita dalam Injil Yohanes (Yoh. 13:1-15) yang kita dengar malam ini: peristiwa pembasuhan kaki.

Setelah menetapkan Ekaristi, Yesus, Sang Guru dan Tuhan, bangkit dari perjamuan, menanggalkan jubah-Nya, mengambil sehelai kain, mengikatkannya pada pinggang-Nya, lalu menuangkan air ke dalam baskom dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya. Sebuah tindakan yang mengejutkan, sebuah tindakan yang biasanya dilakukan oleh seorang budak.

Mengapa Yesus melakukan ini? Ia sendiri memberikan jawabannya: “Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, telah membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Saudara-saudari, ini adalah “mandatum novum,” perintah baru yang Yesus berikan kepada kita. Ekaristi dan pembasuhan kaki adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kita tidak bisa memisahkan perayaan Ekaristi dari praksis pelayanan, terutama kepada mereka yang berada di pinggiran.

Menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi berarti kita diutus untuk menjadi Tubuh Kristus bagi dunia. Kita dikuatkan oleh Ekaristi agar kita memiliki kekuatan untuk keluar dari diri kita sendiri dan melayani sesama, terutama mereka yang paling membutuhkan, yang paling rentan, yang paling terpinggirkan. Paus Yohanes Paulus II dalam Mane Nobiscum Domine mengingatkan: Ekaristi mendorong kita membangun masyarakat yang adil, dengan kasih kepada yang lapar, sakit, pengangguran, imigran, dan orang tua sendirian. Ia berkata: “Dengan kasih kita yang saling melayani, terutama kepada yang membutuhkan, kita dikenali sebagai murid Kristus sejati” (bdk. Mt 25:31-46).

Ketika kita menerima Ekaristi, kita menerima Kristus yang merendahkan diri, Kristus yang melayani, Kristus yang mengasihi sampai akhir. Maka, kita pun dipanggil untuk meneladani-Nya. Kita dipanggil untuk menanggalkan “jubah kebanggaan” kita, “jubah egoisme” kita, dan “jubah kenyamanan” kita, lalu membungkuk untuk membasuh kaki sesama.

Setiap kali kita menerima Komuni Kudus, kita diingatkan bahwa kita tidak hanya menerima Kristus, tetapi kita juga diutus untuk membawa Kristus kepada dunia. Ekaristi harus mendorong kita untuk melihat Kristus dalam diri setiap orang, terutama mereka yang paling kecil dan terpinggirkan, dan untuk melayani mereka dengan kasih yang sama seperti Kristus melayani kita.

Paus Fransiskus, dalam khotbahnya pada Misa Perjamuan Tuhan 2019, mengatakan: Yesus yang memiliki semua kuasa, justru melakukan tindakan budak. “Jadilah saudara dalam pelayanan, bukan dalam ambisi atau penindasan”, katanya. Gereja mengharuskan para pelayan rohani mencuci kaki pada setiap Kamis Putih untuk meniru Yesus—bukan untuk pamer, tapi untuk menjadi pelayan terbesar.  Dalam Audiensi Yubileum 2016, Paus menekankan lagi: “Kasih adalah perbuatan pelayanan yang rendah hati, tersembunyi, berbagi harta agar tak ada yang kekurangan”. Ini gaya Allah: melayani yang lemah. Penutup Malam ini, marilah kita merenungkan kembali betapa agungnya anugerah Ekaristi ini. Marilah kita memperbaharui iman kita akan kehadiran nyata Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Dan marilah kita berkomitmen untuk menerjemahkan perayaan iman kita ini ke dalam tindakan nyata pelayanan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Kateksismus Gereja Katolik menegaskan: Kewajiban melayani yang tertindas semakin mendesak, karena “Apa yang kamu perbuat untuk yang paling kecil dari saudara-Ku ini, kamu perbuatkannya untuk-Ku” (Mt 25:40) Semoga kita semua, yang telah dikuatkan oleh Tubuh dan Darah Kristus, menjadi tangan dan kaki Kristus di dunia ini, membawa harapan dan kasih kepada mereka yang paling membutuhkan. Amin.   Poka, 2 April 2026

Costantinus Fatlolon

Share
Published by
Costantinus Fatlolon

Recent Posts

PEMBAHARUAN DIRI

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Kita kini telah memasuki Minggu Kelima Masa Prapaskah, sebuah titik penting…

2 weeks ago

Hidup Yang Bijaksana Bernilai Di Mata Tuhan

RD. Costan Fatlolon "Segala sesuatu adalah kesia-siaan belaka," kata Kitab Pengkhotbah (1:2). Kata-kata ini diungkapkan…

8 months ago

RENUNGAN

Menggapai Kebahagiaan Abadi Oleh: RD. Costantinus Fatlolon Salah satu dambaan mendasar setiap individu dalam hidup…

9 months ago

Bangga Menjadi Katekis

https://www.tiktok.com/@calon_katekis/video/7492619962293538055?q=calon%20katekis&t=1747642031747

11 months ago

This website uses cookies.