“Pikiran adalah sebuah tabula rasa atau keadaan kosong sejak kelahiran manusia” (John Locke)
John Locke (1632-1704) adalah seorang filsuf asal Inggris yang beraliran empirisme. Ia memperkenalkan gagasannya yang sangat menarik tentang pikiran manusia. Menurutnya, manusia sejak lahir ibarat sebuah tabula rasa atau kertas putih yang bersih dan masih kosong, belum dicoret oleh tangan manusia.
Pandangan serupa telah lebih dahulu disampaikan oleh Aristoteles (384-322 SM), seorang filsuf Yunani Kuno. Ia menyatakan bahwa pikiran manusia yang awalnya masih dalam keadaan kosong belum memiliki gagasan atau pemahaman apa pun sejak lahir. Semua yang diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman, pendidikan, lingkungan dan apa yang dipelajari selama hidupnya.
Pandangan para filsuf di atas mau mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang. Apa yang dilihat, diamati, dan didengar akan tersimpan di dalam otak manusia sehingga menjadi pengetahuan pra-ilmiah yang kemudian direfleksikan dan disistematisasikan menjadi pengetahuan ilmiah.
Pemikiran John Locke membuat saya sadar bahwa saya harus rendah hati dalam mengikuti proses pembelajaran. Saya bukanlah seseorang yang sudah memiliki pengetahuan mendalam. Saya baru mulai meniti hidup, maka saya wajib membuka diri terhadap berbagai macam pengetahuan sehingga bisa memperoleh kebijaksanaan. Lebih dari itu, saya harus terus belajar dengan keras. Sebagai mahasiswa, saya harus memiliki waktu yang cukup untuk membaca materi pelajaran atau buku-buku referensi yang berhubungan dan yang membantu mengembangkan pengetahuan saya.
Dalam proses pembelajaran, saya harus bisa berpikir secara refleksif dan kritis, bukan untuk memegahkan diri, tetapi untuk melatih saya semakin bijaksana. Bijaksana berarti bersikap antisipatif dan mencari prinsip hakiki seluruh hidup ini.
Saya percaya bahwa pendidikan yang sesungguhnya terjadi bukan hanya di ruang kelas atau di sekolah, tetapi juga dalam seluruh perjalanan hidup. Pendidikan bukan hanya menyangkut materi pembelajaran seperti matematika, sejarah, biologi, dan lain sebagainya, tetapi terlebih mengenai nilai-nilai kehidupan seperti sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan cara untuk menghargai orang lain.
Dalam konteks pendidikan, lingkungan sosial memiliki peranan yang tidak dapat diabaikan. Sebagai contoh, jika seseorang berada di lingkungan yang baik, maka ia memiliki pendidikan yang baik dan karakter yang baik. Namun, jika seseorang tinggal di lingkungan yang buruk, maka kehidupannya penuh dengan kebencian dan ia tidak tahu menghargai orang lain.
Sebagai mahasiswa kateketik, saya dituntut untuk mampu menempatkan diri secara benar dalam lingkungan di mana saya berada. Saya harus menunjukkan karakter pendoa dan disiplin bagi semua orang. Saya juga perlu rendah hati untuk bertanya dan menerima masukan yang bijaksana dari teman dan orang lain yang berguna bagi hidup dan pendidikan saya.
Melalui refleksi ini saya belajar menjadi pribadi yang harus belajar sepanjang hayat, bukan saja dengan cara menghafal materi pelajaran tetapi terlebih dengan refleksi kritis dan sistematis.