
REFLEKSI TENTANG METODE FILSAFAT
Oleh: Engelberta Batlayeri
Mahasiswa Semester II STPAK St. Yohanes Penginjil Ambon
Metode penelitian filsafat adalah cara atau langkah sistematis yang digunakan untuk mencari kebenaran serta memahami hakikat realitas secara ilmiah. Berbeda dengan metode ilmu umum yang bisa mengandalkan data empiris, metode penyelidikan filsafat memiliki ciri khas tersendiri, yaitu melampaui sekadar pengalaman yang nyata, membahas hal-hal yang tidak bisa dilihat atau diukur secara fisik, seperti keberadaan Tuhan, hakikat jiwa, makna hidup, dan nilai-nilai.
Dalam sejarah filsafat, kita mengenal beberapa metode filsafat. Pada masa Yunani Kuno, Sokrates menggunakan metode dialetika dalam diskusi, sedangkan Plato, mengikuti gurunya, menginisiasi metode dialog. Aristoteles memperkenalkan silogisme untuk penarikan kesimpulan yang logis. Pada masa modern ini ada metode kesangsian yang diperkenalkan oleh Descartes; ada pula metode fenomenologi yang diperkenalkan oleh Edmund Husserl. Semua metode filsafat ini membuat filsafat memiliki cara pandang serta metode penyelidikan yang sangat khas yang berbeda dengan ilmu pengetahuan empiris serta ilmu pengetahuan umum lainnya.
Salah satu hal yang menarik bagi saya dalam metode penyelidikan filsafat adalah karakteristik pernyataan filsafat. Sangat berbeda dengan pernyataan ilmiah di mana kita biasanya menjawab melalui pengamatan atau eksperimen fisik, pernyataan filsafat bersifat meta-empiris atau melampaui realitas. Concohnya pertanyaan tentang keberadaan Allah atau jiwa manusia. Hal-hal ini tidak bisa diukur dengan alat, namun menjadi materi utama dalam filsafat untuk digali kebenarannya melalui pemikiran yang sangat mendalam. Ini mengajarkan saya bahwa ada dimensi realitas yang tidak bisa dipahami secara tuntas lewat indra tetapi dapat direfleksikan melalui pemikiran kritis-rasional.
Saya menyadari juga bahwa filsafat sering kali membahas hal-hal yang extraordinary atau berada di luar kebiasaan pemikiran umum. Martin Heidegger menyebutkan bahwa filsafat melatih kita untuk berpikir di luar kotak, mencari sudut pandang alternatif, dan tidak terjebak dalam pola berpikir konvensional. Tujuannya bukan hanya untuk menemukan suatu kebenaran, tetapi juga untuk memastikan kebenaran tersebut didasari oleh suatu prinsip yang logis dan rasional.
Terakhir, meskipun sama-sama menjadikan realitas sebagai objek material kajian, filsafat berbeda dengan ilmu lain karena ia menelaah realitas secara keseluruhan dan mendasar, bukan hanya pada bagian-bagian tertentu. Hal ini membuat saya memahami bahwa filsafat adalah ilmu yang berusaha memahami hakikat dari segala sesuatu, bukan sekadar penampilan dari luarnya saja.
Sebagai mahasiswa calon guru agama dan seorang katekis, refleksi ini mengajak saya untuk terus melatih diri untuk berpikir kritis, mendalam, dan menyeluruh. Corak pemikiran filosofis ini akan membantu saya dan kita semua agar bisa memahami ajaran iman dengan lebih baik serta mampu menjelaskan secara rasional dan mendalam kepada orang lain menggunakan iman, akal budi, dan pemikiran dari kita masing-masing.



